Serangan Siber Lumpuhkan Sejumlah Bandara Eropa, Penerbangan Kacau Balau
Kasus ini menambah daftar panjang insiden siber yang melumpuhkan sektor penerbangan global. Laporan dari Thales, perusahaan kedirgantaraan asal Prancis, menyebut serangan siber di sektor penerbangan melonjak hingga 600 persen antara 2024 dan 2025.
“Mulai dari maskapai, bandara, sistem navigasi, hingga pemasok, setiap mata rantai dalam industri penerbangan rentan diserang,” demikian peringatan laporan tersebut.
Industri penerbangan kini dianggap sebagai “target utama” karena perannya yang strategis dan bernilai ekonomi besar.Beberapa insiden besar sebelumnya antara lain peretasan terhadap maskapai Qantas di Australia yang membocorkan data enam juta pelanggan, serta serangan pada Japan Airlines pada Desember 2024.
Selain itu, pada Juli 2024 sempat terjadi gangguan IT global berskala besar, meski bukan serangan siber, yang mengacaukan jadwal penerbangan di berbagai bandara dunia hingga memaksa sejumlah maskapai kembali menggunakan metode check-in manual.


