Kasus anak AM di Padang, Pakar Psikologi Forensik: Kecil kemungkinan bocah 13 tahun lompat dari jembatan untuk kabur

Kasus anak AM di Padang, Pakar Psikologi Forensik: Kecil kemungkinan bocah 13 tahun lompat dari jembatan untuk kabur
Foto: Ayah dan ibu Afif Maulana, Afrinaldi dan Anggun Andriani (kiri dan tengah) saat jumpa pers di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (3/7/2024)
PPA & TPPO
Minggu, 07 Jul 2024  21:56

Netizen kritik Polda Sumatera Barat terkait kasus kematian pelajar bernama Afif Maulana. Dia diduga meninggal dunia karena dianiaya anggota polisi.

Keterangan terkait rusaknya CCTV serta statement bahwa polisi akan mencari pihak yang memviralkan kasus itu justru membuat warganet berang.

Lalu seberapa mungkin Afif Maulana, seperti kata Polda Sumbar, melompat dari atas jembatan guna menyelamatkan diri?

Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel menyatakan, pada usia seperti Afif 13 tahun, teman sepermainan punya pengaruh besar. Baik dalam berpikir maupun beraktivitas.

Posisi Afif dalam kegiatan pada malam tersebut lanjut dia, sebagai pihak yang diajak. Dia diajak mengikuti kegiatan oleh teman yang beberapa tahun lebih tua daripada dirinya.

”Afif berumur puber, sementara temannya berusia pasca puber. Bisa dipastikan Afif bukan pengendali, apalagi penginisiasi,” papar Reza.

Berdasar keterangan lanjut dia, situasi pada malam itu boleh dibilang kritis bahkan menakutkan. Mereka dikejar polisi.

”Kombinasi ketiga hal tersebut mendorong bekerjanya sistem berpikir 1, bukan sistem berpikir 2. Sistem berpikir 1 berlangsung secara sangat cepat. Data di-bypass sangat ekstrem, sehingga proses berpikir laksana garis lurus tanpa percabangan,” terang Reza.

”Tidak ada opsi keputusan yang bersifat majemuk. Opsi tunggal, yakni menyamakan diri dengan keputusan atau perilaku orang-orang lain,” tambah dia.

Sehingga, menurut dia, hitung-hitungan di atas kertas, kalau teman-temannya lari, Afif juga akan lari. Kalau teman-temannya melawan, Afif juga akan melawan, dan sejenisnya.

”Andai dibayangkan bahwa ketika teman-temannya menyerah kepada polisi, Afif justru menjadi satu-satunya orang yang melompat dari jembatan, perilaku Afif sedemikian rupa bertolak belakang dengan rumusan tadi,” ujar Reza.

Dia mengatakan, kemungkinan Afif melompat, selalu ada.

”Namun landasan berpikir saya condong mengarah ke probabilitas yang lebih besar bahwa dalam situasi genting pada saat dikejar polisi, Afif akan membuat keputusan untuk juga melakukan apa yang dilakukan teman-temannya,” ucap Reza.

TAG:
#afif maulana
#reza indragiri
#psikologi forensik
#kota padang
#polda sumbar
Berita Terkait
Oknum polisi di Sumbar diduga tewaskan seorang anak dan siksa anak lainnya
Oknum polisi di Sumbar diduga tewaskan seorang anak dan siksa anak lainnya
Oknum polisi di Sumbar diduga tewaskan seorang anak dan siksa anak lainnya
Oknum polisi di Sumbar diduga tewaskan seorang anak dan siksa anak lainnya
Rekomendasi
1
2
3
4
5
6
7
Peran Nanik S Deyang dalam perkara korupsi MBG diungkap Sony Sonjaya
Kegiatan Korvey, Bersih-bersih Mesjid, oleh Personil Polsek Cigudeg Polres Bogor
Hari Jumat berkah dan pembagian  paket bubur kacang, telur dan Roti gratis, di polsek cigudeg
Nenteng rompi oranye, begini penampakan Roy Suryo usai diitangkap
Di Mana Bumi Kupijak Di Situ Langit Kujunjung! MAUNG Mojokerto Dukung Penuh Pelestarian Tradisi Jolotundo
Indeks Berita