Baru Merdeka, Warga Desa Malasari Kini Merasakan Usai Jalan Dibangun

Baru Merdeka, Warga Desa Malasari Kini Merasakan Usai Jalan Dibangun
 
BOGOR RAYA
Selasa, 26 Agu 2025  20:30

Bogor - Aliansinews id. Perjuangan warga Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, untuk sekadar berbelanja kebutuhan pokok ibarat menempuh sebuah ekspedisi. Jarak menuju pasar Cigudeg dan Leuwiliang bisa memakan waktu seharian penuh. 

"Berangkat subuh pukul lima, mereka baru tiba kembali di rumah menjelang magrib.
Jalannya sempit, berbatu, dan berliku melewati hutan. Bagi warga, perjalanan panjang ini bukan sekadar soal tenaga, tetapi juga soal keselamatan.

"Kalau ada yang sakit, apalagi ibu melahirkan, rasanya cemas sekali di jalan," tutur Agus (43).

Untuk kali ini, sebagian jalan baru telah dibangun melalui program Bupati Bogor, sehingga perjalanan yang dulu bisa memakan seharian kini bisa dipotong menjadi setengah hari.

Walau pun meski belum sepenuhnya mulus dan masih ada ruas yang berbatu atau licin, akses yang lebih baik ini mulai memudahkan warga mendapatkan kebutuhan pokok, sekaligus membuka peluang ekonomi dan pengembangan ekowisata di desa yang berada di jantung Halimun-Salak ini.

Agus warga malasari Menyampaikan kepada Awak media Aliansinews id. perbaikan infrastruktur ini terasa seperti hadiah kemerdekaan yang baru datang puluhan tahun setelah proklamasi.

"Merdeka kan udah 80 tahun, tapi kami baru benar-benar merasa merdeka sekarang. Karena dulu untuk belanja saja, berangkat subuh pulangnya sekitar jam 2-3 siang atau bahkan magrib," katanya.

Jalan Panjang Menuju Pendidikan di Ujung Halimun
Di Kampung Citalahab, Malasari, pendidikan menempuh jalan yang tidak kalah berliku dibanding jalan desa itu sendiri. 

Guru Harun, salah satu tenaga pendidik di sana, bercerita bagaimana dulu anak-anak hanya bisa bermimpi melanjutkan sekolah ke jenjang SMP. Pasalnya, SMP induk terdekat berada di Nanggung, dengan jarak hampir kurang lebih 40 kilometer.

"Kalau dulu, bisa seharian kalau harus ke sana. Jauh sekali," ujarnya.

Kondisi ini membuat warga dan pemerintah kecamatan mencari siasat. Maka lahirlah SMP Terbuka, sebuah solusi alternatif agar anak-anak tidak perlu berjalan jauh keluar kampung.

Konsepnya berbeda dengan sekolah reguler, siswa lebih dituntut aktif, guru hanya berperan sebagai fasilitator, sementara materi pembelajaran diberikan dalam bentuk paket yang disubsidi pemerintah.

Namun, realitas di lapangan tak semudah konsep di atas kertas.

"Anak-anak di kampung biasanya pasif. Kalau tidak dikasih, ya mereka tidak minta. Jadi tetap saja harus ada guru yang mengajar seperti biasa," kata Harun.

Guru-guru SD di kampung lah yang akhirnya merangkap sebagai pengajar SMP Terbuka, memastikan anak-anak tetap mendapatkan hak belajar meski kualitasnya tak semaksimal sekolah reguler.

Masalah pendidikan itu berkelindan dengan persoalan infrastruktur dan komunikasi. Jalan yang kini mulai dibuka sebagian oleh pemerintah kabupaten memang mempersingkat waktu tempuh, tetapi belum sepenuhnya menjangkau kampung. Perbaikan masih diperlukan agar mobilitas warga, termasuk guru dan anak sekolah, lebih lancar.

Di sisi lain, kendala sinyal juga menjadi cerita sehari-hari. Akses internet yang terbatas membuat komunikasi dengan dunia luar kerap tersendat.

"Kadang pakai WiFi tembak. Kalau tidak, ya sama sekali tidak ada sinyal," tutur Harun.

Hal ini tentu berimbas pada proses belajar, terutama saat pendidikan kini sangat bergantung pada teknologi digital.

Bupati Minta Maaf
Tujuh bulan menjabat, Bupati Bogor Rudy Susmanto menegaskan komitmennya membangun Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, usai memimpin agenda Tour de Malasari 2025, Sabtu (23/8/2025).

Dalam sambutannya, Rudy mengungkapkan Desa malasari memiliki sejarah penting bagi kabupaten Bogor. Pada 17 Agustus 1945. Bendera merah putih pertama di wilayah ini kibarkan dikediaman almarhum Raden Ipik Gandamana.

"Setelah 80 tahun Indonesia merdeka. kami kembali hadir di Desa malasari. saya pribadi bersama ketua DPRD dan jajaran pemerintah daerah, memohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat malasari karena infrastruktur di sini masih tertinggal," kata Rudy.

Rudy menyebut, pembangunan jalan yang sejak Indonesia merdeka belum tersentuh kini mulai dikerjakan. Jangan menuju malasari selam ini dikenal sulit dilalui, sepanjang hampir 10 kilometer dari gerbang desa.

"jalan masih berupa bebatuan besar yang menonjol jika hujan turun, jalur licin dan rawan tergelincir, sehingga kendaraan maupun pejalan kaki harus ekstra hati-hati.

Kali ini Alhamdulillah, pembangunan jalan sudah berjalan. Kehadiran kami kali ini juga untuk merayakan HUT RI ke 80 Sekaligus berbagi kebahagiaan bersama masyarakat Desa malasari," Ujarnya.

(Yogi)

TAG:
#cigudeg
#rudy susmanto
#leuwiliang
#nanggung
#kabupaten bogor
#bogor raya
Berita Terkait
Ciptakan Kondusifitas, Bhabinkamtibmas Polsek Cigudeg Giat Sambang ke Desa Banyuasih.
Ciptakan Kondusifitas, Bhabinkamtibmas Polsek Cigudeg Giat Sambang ke Desa Banyuasih.
Ciptakan Kondusifitas, Bhabinkamtibmas Polsek Cigudeg Giat Sambang ke Desa Banyuasih.
Ciptakan Kondusifitas, Bhabinkamtibmas Polsek Cigudeg Giat Sambang ke Desa Banyuasih.
Rekomendasi
1
2
3
4
5
6
7
Momentum Emas Pemulihan Uang Negara! DPP RAJAWALI Desak DPR Segera Sahkan RUU Perampasan AsetĀ 
Kapolsek Megamendung Jadi Irup Peringatan Upacara HUT Bogor KE 544 Tahun 2026 Tingkat Kecamatan Megamendung Kabupaten BogorĀ 
Ancam Jurnalis Pakai Sajam, Aparat Harus Tindak Tegas Pemilik PETI Malik Af, Ison, dan Timbul Regar!
Wakil Bupati PALI Diamankan Kejati Sumsel, Diduga Minta Fee Rp1 Miliar dengan Iming-iming Proyek Rp10 Miliar
Desa Biyuku Sukses Jalankan Program BUMDes dan Pembangunan Infrastruktur Desa
Indeks Berita