Diancam lenyap, mengapa Iran tolak gencatan senjata?

Diancam lenyap, mengapa Iran tolak gencatan senjata?
Foto: Selat Hormuz
INTERNASIONAL
Selasa, 07 Apr 2026  13:31

Upaya negosiasi diplomatik untuk menghentikan konflik di Timur Tengah mengalami kemunduran signifikan.

Situasi ini terjadi hanya sehari sebelum tenggat waktu yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kepada Iran.

Trump bahkan mengancam akan menjadikan Iran “neraka” dengan menargetkan infrastruktur vital seperti jembatan dan pembangkit listrik jika tidak ada kesepakatan yang tercapai.

Di tengah eskalasi tersebut, mediator internasional dari Pakistan, Mesir, dan Turki terus mendorong gencatan senjata sebagai langkah awal menuju perdamaian.

Rencana ini mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, sebelum dilanjutkan dengan negosiasi lebih luas.

Namun, Iran menolak opsi tersebut. Melalui kantor berita resmi Islamic Republic News Agency (IRNA), Teheran menegaskan bahwa mereka menginginkan pengakhiran perang secara permanen, bukan sekadar gencatan senjata sementara.

Proposal AS dinilai tidak seimbang

Proposal gencatan senjata yang diajukan AS dan sekutunya berkembang dalam beberapa skema, mulai dari jeda konflik singkat hingga rencana 45 hari yang dimediasi sejumlah negara.

Secara umum, proposal itu menekankan penghentian permusuhan, pembukaan Selat Hormuz, pembatasan aktivitas militer Iran, serta pengawasan terhadap program nuklirnya.

Namun, sejumlah analis menilai isi proposal tersebut lebih mencerminkan kepentingan AS dan Israel dibandingkan kompromi yang seimbang.

Beberapa poin bahkan dianggap terlalu maksimalis dan sulit diterima oleh Iran, karena dinilai berupaya mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan.

Alasan Iran menolak

Penolakan Iran didasarkan pada sejumlah pertimbangan strategis. Teheran menilai gencatan senjata hanya akan menjadi jeda sementara tanpa menyelesaikan akar konflik.

Iran juga menuntut pencabutan sanksi ekonomi serta dukungan rekonstruksi sebagai bagian dari kesepakatan damai.

Selain itu, faktor ketidakpercayaan terhadap AS dan Israel turut memperkuat sikap Iran. Teheran menilai rekam jejak kedua negara dalam mematuhi kesepakatan internasional tidak konsisten.

Iran juga menolak pembatasan terhadap program nuklir dan kemampuan militernya, yang dianggap sebagai bagian dari kedaulatan nasional.

Selat Hormuz menjadi kartu tawar utama Iran dalam negosiasi. Jalur ini merupakan rute penting bagi sebagian besar pasokan energi global, sehingga memiliki nilai strategis tinggi.

Ancaman eskalasi konflik

Dalam konferensi pers, Trump menegaskan bahwa kegagalan Iran memenuhi tenggat waktu dapat berujung pada kehancuran besar.

“Seluruh negara dapat hancur dalam satu malam, dan malam itu mungkin besok malam,” ujar Trump.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga memperingatkan peningkatan intensitas serangan militer.

“Hari ini akan menjadi hari dengan volume serangan terbesar sejak awal operasi. Besok bahkan lebih besar lagi,” katanya.

Di sisi lain, Israel menyatakan kesiapan untuk meningkatkan serangan, termasuk menargetkan fasilitas strategis Iran.

Sementara itu, Iran memperingatkan akan memberikan balasan yang jauh lebih dahsyat jika eskalasi terus berlanjut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa negosiasi tidak dapat dilakukan di bawah ancaman.

TAG:
#selat hormuz
#iran
#trump
#amerika
#israel
Berita Terkait
Rute Penerbangan Kacau Akibat Serangan Iran ke Pangkalan Militer AS di Qatar
Rute Penerbangan Kacau Akibat Serangan Iran ke Pangkalan Militer AS di Qatar
Rute Penerbangan Kacau Akibat Serangan Iran ke Pangkalan Militer AS di Qatar
Rute Penerbangan Kacau Akibat Serangan Iran ke Pangkalan Militer AS di Qatar
Rekomendasi
1
2
3
4
5
6
7
Cetak Generasi Bhayangkara Berkualitas, Polda Sumsel Gelar Rikkes Tahap II Taruna Akpol 2026
Apresiasi Tinggi Ketum Maung & Rajawali: Langkah Prabowo Tegaskan Tak Ada Yang Kebal Hukum
Polda Sumsel Perkuat Komitmen Rekrutmen Presisi, Ribuan Casis Ikuti Sidang Menuju Rikkes II Tahun 2026
Perkuat Solidaritas Sosial, Pimpinan RAJAWALI Kalbar dan PBM Sintang Bahas Pelestarian Budaya dan Stabilitas Masyarakat
Dari Pesantren untuk Indonesia, Polda Sumsel dan JKSN Kolaborasi Perkuat Wawasan Kebangsaan
Indeks Berita