Kasus dosen Untag tewas di Semarang, mahasiswa tuntut polisi transparan

Dirreskrimum Polda Jateng Kombes Dwi Subagio menemui puluhan mahasiswa Universitas 17 Agustus (Untag) Semarang terkait kematian tak wajah dosen muda Doktor Dwinanda Linchia Levi.
Dwi menyebut, pihaknya melakukan penelusuran baik CCTV hingga meminta keterangan dari saksi.
Salah satu langkah yang dilakukan dalam pengungkapan tewasnya dosen muda di hotel di Jalan Telaga Bodas Raya No 11, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang, Senin (17/11/2025),
Kepolisian juga melakukan penelusuran sebelum kejadian. Penelusuran dilakukan dengan membuka HP milik korban.
"Kita belum bisa membuka HP korban. Jika ada informasi dari mahasiwa maupun keluarga kita bisa dibantu," ungkap Kombes Dwi Subagio didampingi Kabid Humas Polda Jateng Kombes Artanto, dan Kabid Propam Polda Jateng Kombes Saiful.
Kepada mahasiswa yang datang ke Polda Jateng untuk mendorong transparansi penyelidikan kasus kematian dosen Untag Semarang Dwinanda Linchia Levi, Direskrimum menjelaskan pengungkapan kasus yang pertama kali diketahui atas laporan dari AKBP Basuki, perwira menengah Direktorat Samapta Polda Jawa Tengah bagian Pengendali Massa (Dalmas).
Dalam pertemuan perwakilan mahasiswa Untag Semarang menyoroti adanya informasi yang menyebutkan, hasil autopsi terhadap jenazah Dwinanda Linchia Levi (35), dosen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus (Untag) Semarang, dinilai menunjukkan adanya indikasi aktivitas berlebihan sebelum korban meninggal dunia. Autopsi dilakukan di RSUP Dr Kariadi Semarang.
Sejumlah kejanggalan
Perwakilan mahasiswa Untag Semarang, Antonius Fransiskus Polu menyampaikan ada sejumlah kejanggalan dalam kasus yang diduga ada keterlibatan dari saksi AKBP B.
Dimana, saat ditemukan tewas korban dalam kondisi tergeletak dilantai ditutup kain dan tanpa mengenakan busana di kamar hotel di Jalan Telaga Bodas Raya No. 11, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang, pada Senin (17/11/25).
Mahasiswa menyebutkan dari informasi yang didapat orang pertama yang menemukan dosen Levi adalah AKBP Basuki (56), perwira menengah Direktorat Samapta Polda Jawa Tengah bagian Pengendali Massa (Dalmas). Basuki kemudian melaporkan temuan tersebut ke Polsek Gajahmungkur.
Jantung pecah tergeletak tanpa busana
Perwakilan mahasiswa Untag Semarang, Antonius Fransiskus Polu menambahkan bahwa dari keterangan pihak rumah sakit, dosen yang dikenal dekat dengan mahasiwa dan sering diskusi dengan mahasiswa itu sempat memeriksakan diri ke RS Kariadi.
"Siang hari beliau sempat periksa. Beliau punya riwayat darah tinggi. Ketika kembali ke kos, ada aktivitas berlebih yang menyebabkan jantungnya pecah. Yang menjadi kejanggalan, posisi beliau ditemukan tergeletak tanpa busana," ujar Frans di Mapolda Jawa Tengah, Rabu (19/11/25).
Dalam audiensi tersebut, Frans menyoroti sejumlah kejanggalan lain, termasuk jeda waktu yang cukup lama sejak korban terakhir terlihat hingga ditemukan tewas, serta status orang yang disebut sebagai saksi kunci.
“Di penginapan itu yang tinggal hanya Bu Levi. Sementara saksi kunci (AKBP Basuki, red) ini kami belum tahu apakah pengunjung atau bukan. Tidak ada yang kami temukan di lokasi,” katanya.












