Diduga jadi korban bullying, siswa MTs di Pati kehilangan 2 jari

Diduga jadi korban bullying, siswa MTs di Pati kehilangan 2 jari
Foto: Siswa kelas VII di salah satu Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kabupaten Pati, Jawa Tengah dilarikan ke rumah sakit dan kehilangan dua ruas jarinya akibat terjepit pagar sekolah.
PPA & TPPO
Minggu, 02 Agu 2026  10:26

Nasib nahas menimpa seorang siswa kelas VII di salah satu Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Siswa tersebut harus dilarikan ke rumah sakit dan kehilangan dua ruas jarinya akibat terjepit pagar sekolah.

Insiden tragis ini diduga terjadi saat korban berusaha kabur dari aksi perundungan (bullying) di lingkungan sekolah.

Peristiwa tersebut terjadi pada Senin (27/7/2026) lalu, sesaat setelah waktu salat zuhur.

Saat sedang berada di area tempat wudu, korban diduga tiba-tiba didatangi dan dikeroyok oleh tiga siswa kelas IX tanpa alasan yang jelas.

Merasa terpojok, panik, dan ketakutan, korban berusaha menyelamatkan diri dengan cara memanjat pagar besi sekolah.

Sayangnya, tangan korban justru terjepit pagar dengan keras.

Insiden itu berakibat fatal, satu ruas jari telunjuk korban terputus di lokasi kejadian, sementara satu ruas jari manisnya hancur dan terpaksa harus diamputasi saat mendapatkan perawatan medis di Keluarga Sehat Hospital (KSH) Pati.

Pendamping korban, Padina Mahardikasari, membenarkan adanya dugaan perundungan di balik insiden putusnya jari korban.

Ia juga menyayangkan sikap pihak sekolah yang dinilai lepas tangan dan tidak kooperatif dalam menangani kasus ini.

"Selama kami mendampingi korban, ada dugaan bullying karena sampai jarinya putus akibat terjepit di pagar (saat kabur). Namun, pihak sekolah agak tidak kooperatif karena sisa jarinya malah disuruh dikuburkan. Pihak sekolah juga tidak ada upaya menjenguk korban," ujar Padina saat ditemui awak media, Sabtu (1/8/2026).

Padina menambahkan pihak keluarga tidak tinggal diam dan telah menempuh jalur hukum terkait dugaan kekerasan ini.

"Korban juga sudah lapor ke Polresta Pati dan laporannya telah diterima. Untuk tindak lanjut seperti olah TKP, itu sepenuhnya kewenangan Polres," tegasnya.

Sekolah bantah adanya perundungan

Pada sisi lain, pihak MTs menampik keras tudingan adanya aksi bullying maupun pengeroyokan di lingkungan sekolahnya.

Kepala MTs, Syafi`i, menegaskan peristiwa yang menimpa anak didiknya adalah murni kecelakaan saat bermain.

"Kami menyampaikan kejadian di MTs sini murni dari insiden kecelakaan yang tidak ada unsur kesengajaan atau pembulian," jelas Syafi`i.

Lebih lanjut, ia membeberkan kronologi versi pihak sekolah.

"Jadi kronologinya itu sesudah habis salat zuhur, anak-anak masuk kelas. Terus ada anak-anak yang main, lalu terjadilah hal itu. (Korban) naik pagar, terus tangannya terjepit," sanggahnya.

Meski terdapat perbedaan keterangan antara pihak korban dan sekolah, kasus ini kini telah resmi ditangani oleh pihak kepolisian dari Polresta Pati. 

Sementara itu, setelah sempat menjalani perawatan intensif dan operasi amputasi di KSH Pati, kondisi korban saat ini dilaporkan mulai membaik dan telah diperbolehkan pulang untuk menjalani pemulihan di rumah.

TAG:
#bullying
#perundungan
#peelindungan anak
#kabupaten pati
#jateng
Berita Terkait
Siswa SMP korban bullying di Tangsel meninggal di RS
Siswa SMP korban bullying di Tangsel meninggal di RS
Siswa SMP korban bullying di Tangsel meninggal di RS
Siswa SMP korban bullying di Tangsel meninggal di RS
Rekomendasi
1
2
3
4
5
6
7
Kebakaran Gunung Gede Pangrango, petugas dan relawan terus siaga
Reuni Akbar SD Erlxiao Palembang: Ajang Silaturahmi Lintas Kota & Bentuk Terima Kasih pada Para Guru
Mengenal Dody Chen yang lebih disapa Koko DC  : MC Legend Multitalenta Asal Palembang dengan Pengalaman 20 Tahun dan Skill Tiga Bahasa
BPAN-LAI Sumsel Minta BPTD Sumsel Buka Pengelolaan Anggaran DIPA Rp118,58 Miliar
BPAN-LAI Sumsel Minta Klarifikasi Anggaran Honorarium Ustadz dan Ustadzah Rp17,2 Miliar di Pemkot Palembang
Indeks Berita