Rakyat Sesak Asap, Mahasiswanya Malah Bungkam! Ada Apa dengan Aliansi Mahasiswa Sumsel?

PALEMBANG, http://AliansiNews.id
Ultimatum keras yang dilayangkan Aliansi Mahasiswa se-Sumatera Selatan kepada Gubernur Sumsel H. Herman Deru kini menjadi buah bibir dan cibiran masyarakat. Aksi yang digadang-gadang bakal jadi gerakan besar itu dinilai tumpul dan hanya sekadar panggung konten media sosial.
Diketahui, Aliansi Mahasiswa yang mengatasnamakan mahasiswa dari UNSRI, UIN Raden Fatah, Universitas Muhammadiyah Palembang, PGRI, IMM, dan HMI se-Sumsel melakukan aksi demonstrasi besar-besaran di Kantor Gubernur Sumsel pada Senin-Rabu, 5-7 Oktober 2026 lalu.

Dalam aksinya yang viral di TikTok, Instagram dan Facebook itu, mereka melontarkan 3 tuntutan keras:
1. Mendesak Gubernur Herman Deru segera mencopot Kepala BPBD Sumsel yang dinilai gagal dan lalai dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
2. Menuntut transparansi penuh terkait alokasi anggaran Bantuan Presiden (Banpres) sebesar Rp100 Miliar untuk penanganan karhutla.
3. Mendesak Gubernur Herman Deru mundur dari jabatannya jika dalam waktu 3 hari kondisi kabut asap tidak membaik, dan mengancam akan menggelar aksi massa yang jauh lebih besar.
Namun, fakta di lapangan hingga Selasa (13/10) hari ini sangat berbanding terbalik. Tuntutan itu seolah menguap ditelan asap.
Pantauan di lapangan, Kepala BPBD Sumsel masih aktif menjabat. Transparansi anggaran Rp100 Miliar tak kunjung dibuka ke publik. Gubernur Herman Deru pun masih menjalankan roda pemerintahan seperti biasa tanpa ada klarifikasi terbuka soal ultimatum tersebut.
Sementara itu, kondisi udara di Kota Palembang dan beberapa kabupaten di Sumsel masih diselimuti kabut asap tebal. Data hotspot api bahkan masih bermunculan setiap malam, membuat masyarakat semakin resah.
Kondisi inilah yang memicu kekecewaan dan pertanyaan besar dari masyarakat.
"Apa dengan mahasiswa dan LSM yang kemarin demo dengan berbagai macam tuntutan, kenapa tidak melanjutkan? Apakah ada intervensi atau ada hal lain yang menyebabkan mereka tidak melanjutkan tuntutannya," ujar Dery (36), warga Palembang kepada wartawan, Selasa (13/10).
Kecurigaan serupa juga dilontarkan oleh seorang pengemudi ojek online yang sehari-hari mangkal di sekitar Kantor Gubernur.
"Kemaren heboh nian waktu demo, kami sempat dengar dari depan kantor gubernur, tapi sekarang malah idak ado gerakan, padahal kan kabut asap masih banyak, apo ado sesuatu samo mahasiswa ini, atau mungkin bae ado oknum yang sudah di ajak ngobrol secara pribadi," candanya dengan nada kesal.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Aliansi Mahasiswa yang terdiri dari BEM dan Organisasi Kepemudaan tersebut belum memberikan klarifikasi resmi terkait mandeknya gerakan mereka. Upaya konfirmasi yang dilakukan awak media masih belum mendapat jawaban.
Masyarakat kini hanya bisa menunggu, apakah janji aksi jilid II itu benar-benar akan terbukti, atau hanya sekadar gertak sambal yang tumpul di hadapan kekuasaan.(Hanny)












