HIPMAPI: Situasi global berubah, ketahanan pangan dan kesejahteraan petani menjadi krusial

HIPMAPI: Situasi global berubah, ketahanan pangan dan kesejahteraan petani menjadi krusial
 
EKONOMI
Sabtu, 25 Jul 2026  14:54

Keberadaan pangan menjadi hal penting dalam kehidupan manusia. Atas pola pikir inilah, dalam tataran kehidupan masyarakat ini dikenal adanya ketahanan pangan (pemerintah).

Secara sederhana, ketahanan pangan itu merupakan suatu kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan secara cukup, baik dari jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau.

Progam Ketahanan Pangan

Untuk memahami kondisi ketahanan pangan di masyarakat, perlu memahami keberadaan sejarah program ketahanan pangan itu sendiri. Secara periode, program ketahanan pangan ini meliputi tiga periode, yaitu: program food estate (lumbung pangan) era 1, program food estate era 2, dan program food estate era 3.

Program Food Estate Era 1

Pada tahun 1995 melalui Keppres no 82/95, Presiden Soeharto membuat Proyek Lahan Gambut  (PLG) sejuta hektar sawah di Kalimantan Tengah. Keberadaan program PLG itu, akhirnya diputuskan berakhir dan gagal pada tahun 1998 melalui keppres 33/98 di masa pemerintahan BJ Habibie.

Program Food Estate Era 2

Tahap program ketahan pangan periode kedua ini terjadi pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Yaitu adanya program Merauke Integrated Energi Estate (MIFEE) tahun 2010.

MIFEE ini diterbitkan lewat Inpres No. 5 Tahun 2008 tentang Fokus Program Ekonomi Tahun 2008-2009, khususnya untuk mempersiapkan program MIFEE dan Inpres No. 1/2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010.

Program Food Estate Era 3

Tahap ketiga terkait program ketahanan pangan yang dilakukan pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Tahapan program ketahanan pangan yang dibuat, di antaranyabprogram 30.000 ha sawah di Kalimantan Tengah tahun 2020.Program ini ada seluas 20.000 ha yang dilaksanakan di “bekas” proyek lahan gambut sejuta hektar.

Pada program food estate era 3 inilah, Kementerian Pertahanan yang Menterinya saat itu adalah Prabowo Subianto mendapat peran sangat besar dalam mendukung program yang menjadi bagian dari ketahanan pangan tersebut.

“Ketika kemudian Bapak Prabowo menjadi presiden, dan situasi global berkembang serta berubah sedemikian rupa, semakin tidak menentu dan adanya konflik-konflik regional yang berdampak secara global, program ketahanan pangan menjadi sangat krusial, bukan lagi terkait masalah ekonomi dan sosial, tapi juga sudah menjadi elemen sangat vital dalam ketahanan nasional,” kata Wakil Ketua Himpunan Petani Merah Putih Indonesia (HIPMAPI) Darmaputra Ervan Christiawan dalam sesi diskusi saat kunjungan ke kantor DPP Lembaga Aliansi Indonesia (LAI), Kamis (23/7/2026).

Ketika bicara mengenai ketahanan pangan, lanjut Ervan, hal yang tidak bisa dipisahkan adalah masalah pertanian, dan ketika bicara pertanian salah satu yang harus menjadi pusat perhatian adalah petani dan para pelaku dalam mata rantai pertanian tersebut.

“Masalah pertanian itu cukup kompleks ya, dari mulai lahannya, bibit atau benih pertaniannya, sistem pendukungnya, dan tentu saja para petaninya. Kesejahteraan petani tentunya sangat penting, bukan hanya dalam konteks perekonomian petanianya sendiri tapi juga bisa menarik minat bagi banyak orang untuk terjun atau beralih ke pertanian. Tapi kalau petaninya saja –anggaplah- sengsara, bagaimana orang yang bukan petani mau tertarik pada bidang pertanian?” ujarnya.

Langkah penting untuk mewujudkan kesejahteraan petani, menurut Ervan, adalah petani jangan hanya menjadi obyek yaitu hanya pelaku pasif yang tergantung sepenuhnya pada sistem tanpa bisa berperan ikut menentukan arah kebijakan maupun sistem dalam pertanian dan mata rantainya tersebut.

“Nah, lantas bagaimana agar petani bisa menjadi subyek tidak sekedar obyek, ya para petani harus punya bargaining position (posisi tawar) yang kuat. Dan salah satu membangun bargaining position itu adalah para petani bersatu dan berhimpun dalam wadah yang kuat sehingga diperhitungkan serta bisa turut menentukan arah kebijakan.

“Semua unsur sudah pasti memliki kepentingan masing-masing, dan ego sektoral masing-masing unsur itu cenderung lebih mementingkan kelompoknya sendiri ketimbang kepentingan bersama, yaitu kepentingan bangsa dan negara. Merah putih. Jika unsur petani kuat tentu para petani bisa meredam ego sektoral pihak lain dan memperjuangkan kepentingan yang lebih seimbang serta ada keberpihakan pada para petani,” pungkasnya.

Turut hadir dalam diskusi tersebut di antaranya Ketua Umum HIPMAPI yang sekaligus Ketua DewanPengawas LAI Gunther Gemparalam, SE, MA, Wakil Ketua Umum HIPMAPI Arief Setiabudi, Sekjen LAI Suparno, Kepala Sekretariat Umum LAI Muhammad Syafei danKetua Dept OKK LAI Syahrizal.

TAG:
#hipmapi
#aliansi
#pertanian
#petani
Berita Terkait
Status "Free Trade Zone" Harus Dipertahankan di Batam
Status "Free Trade Zone" Harus Dipertahankan di Batam
Status "Free Trade Zone" Harus Dipertahankan di Batam
Status "Free Trade Zone" Harus Dipertahankan di Batam
Rekomendasi
1
2
3
4
5
6
7
Berawal dari warung nasi uduk, bentrokan warga di Menteng makan korban 1 tewas
Tragedi main hakim sendiri di Tabanan Bali, Bupati minta masyarakat hormati proses hukum
Sebelum meninggal, Jubir Otorita IKN Troy Pantouw sibuk persiapkan HUT ke-81 RI
Kasus OTT Bupati Rejang Lebong menjalar ke Pemkot Bengkulu
Bongkar permainan kotor Febrie Adriansyah, Susno Duaji: Sudah dipantau sejak lama
Indeks Berita