Di Mana Bumi Kupijak Di Situ Langit Kujunjung! MAUNG Mojokerto Dukung Penuh Pelestarian Tradisi Jolotundo

Di Mana Bumi Kupijak Di Situ Langit Kujunjung! MAUNG Mojokerto Dukung Penuh Pelestarian Tradisi Jolotundo
 
BOGOR RAYA
Jumat, 19 Jun 2026  18:36

Bogor - Aliansinews id. Semangat menjaga akar budaya dan warisan leluhur kembali tampak nyata di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Ribuan warga dari berbagai daerah—mulai Bali, Jawa Tengah, Pasuruan, Sidoarjo, Surabaya hingga Jombang—berkumpul menggelar Ruwat Agung Petirtaan Jolotundo pada Kamis, 18 Juni 2026. 

Tradisi turun-temurun ini digelar menjelang bulan Suro sebagai wujud syukur atas limpahan air sumber mata air yang menjadi tumpuan kehidupan warga sekitar.

Rangkaian acara diawali dengan kirab agung dari Lapangan Sri Rahayu menuju kawasan situs bersejarah Candi Jolotundo. Warga membawa sesajen penghormatan kepada leluhur, diikuti pelepasan burung dan penanaman pohon sebagai simbol cinta kasih serta tanggung jawab menjaga kelestarian alam.

Pemangku Adat Jolotundo, Mukade, menjelaskan kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap pasaran Legi sebelum tanggal 10 Suro, memohon berkah agar “Tirta Jolotundo” senantiasa mengalir memberi kemakmuran untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian, hingga perekonomian warga.

Sebagai situs peninggalan bersejarah yang dibangun tahun 877 Saka atau akhir abad ke-9 Masehi di lereng Gunung Penanggungan, Petirtaan Jolotundo memiliki nilai arkeologi dan spiritual yang tak ternilai.

Merespons semangat pelestarian ini, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Monitor Aparatur Untuk Negara dan Golongan (MAUNG) Mojokerto menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya.

Ketua DPC MAUNG Mojokerto, Arief, S.H., menegaskan bahwa menjaga adat, budaya, dan tradisi leluhur adalah kewajiban seluruh anak bangsa.

“Kami sangat mengapresiasi warga Trawas yang tetap teguh melestarikan tradisi Ruwat Agung Petirtaan Jolotundo. Prinsip kami jelas: ‘Di mana bumi kupijak, di situ langit kujunjung’. Artinya, di mana pun kita berada, kita harus menghormati, menjaga, dan mengembangkan apa yang telah diwariskan pendahulu kita,” ujar Arief di Mojokerto.

Menurutnya, tradisi seperti ini bukan sekadar upacara, melainkan identitas yang mengikat persatuan dan mengajarkan rasa syukur serta kepedulian terhadap alam. “Warisan budaya dan situs bersejarah adalah kekayaan milik bersama.

Jika kita melupakannya, sama saja kita memutus akar sejarah bangsa. MAUNG Mojokerto siap mendukung dan mengawal agar tradisi ini terus lestari, serta situs-situs seperti Candi Jolotundo terjaga kelestariannya dari kerusakan maupun eksploitasi sembarangan,” tambahnya.

Arief juga berharap semangat ini menular ke seluruh elemen masyarakat, pemerintah daerah, dan pelaku pariwisata agar pelestarian berjalan beriringan dengan kemajuan daerah tanpa mengorbankan nilai-nilai luhur.

“Kehidupan beradab itu tumbuh di atas akar budaya yang kuat. Selama kita masih menjaga apa yang ditinggalkan leluhur, selama itu pula jati diri kita tetap utuh,” pungkasnya.

(Team)

TAG:
#
Berita Terkait
Terkait Tersangka BGN, Dashboard MBG Kabupaten Bogor Tak Bisa Diakses 
Terkait Tersangka BGN, Dashboard MBG Kabupaten Bogor Tak Bisa Diakses 
Terkait Tersangka BGN, Dashboard MBG Kabupaten Bogor Tak Bisa Diakses 
Terkait Tersangka BGN, Dashboard MBG Kabupaten Bogor Tak Bisa Diakses 
Rekomendasi
1
2
3
4
5
6
7
Peran Nanik S Deyang dalam perkara korupsi MBG diungkap Sony Sonjaya
Kegiatan Korvey, Bersih-bersih Mesjid, oleh Personil Polsek Cigudeg Polres Bogor
Hari Jumat berkah dan pembagian  paket bubur kacang, telur dan Roti gratis, di polsek cigudeg
Nenteng rompi oranye, begini penampakan Roy Suryo usai diitangkap
Roy Suryo dan dr Tifa ditangkap Polda Metro Jaya
Indeks Berita