Sumut dilanda 20 banjir dan longsor, Polri kerahkan Brimob untuk pencarian korban

Rentetan bencana menerjang sejumlah wilayah di Sumatera Utara dalam sepekan terakhir.
Data terbaru Polri mencatat 20 kejadian tersebar di enam kabupaten/kota, yakni Tapanuli Tengah, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Sibolga, dan Nias.
Bencana terdiri atas 12 tanah longsor, tujuh bencana banjir, dan satu pohon tumbang. Dampaknya cukup besar. Sepuluh warga meninggal, tiga luka-luka, dan enam orang masih hilang.
Sebanyak 2.393 kepala keluarga terdampak, dan 445 warga mengungsi. Sejumlah ruas jalan penghubung antarwilayah tertutup material longsor.
Kerusakan terparah terjadi di Sibolga, dengan enam titik longsor yang menewaskan lima orang, tiga luka-luka, dan empat lainnya belum ditemukan.
Di Tapanuli Tengah, longsor pukul 07.00 WIB merenggut empat nyawa dan merusak satu rumah.
Kabupaten Mandailing Natal mencatat banjir dan longsor yang menutup Jembatan Aek Inumon II serta memaksa 400 warga mengungsi.
Di Tapanuli Selatan, pohon tumbang menewaskan satu warga dan melukai seorang lainnya.
Tapanuli Utara mengalami tiga titik longsor dan dua rumah rusak. Di Nias, longsor memutus akses Desa Hiligodu, Gunungsitoli.
Polri bersama BPBD, Basarnas, TNI, dan relawan terus melakukan pencarian enam korban yang belum ditemukan.
Pengiriman personel dilakukan secara bertahap untuk membuka akses, membantu evakuasi, dan mendukung pengungsi.
Menurut Karo Penmas Polri, Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko, fokus utama tim SAR Polri adalah keselamatan warga.
Ia menyebut pengerahan Brimob dan seluruh unsur kepolisian dilakukan secara bertingkat untuk mempercepat pemulihan.
“Kami akan terus bekerja sampai seluruh wilayah terdampak tertangani. Informasi akan diperbarui secara terbuka agar masyarakat bisa mengambil langkah aman,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (26/11/2025).
Curah hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir menjadi pemicu utama longsor dan banjir.
BMKG memperkirakan hujan masih berpotensi memunculkan bencana susulan.
Polri meminta masyarakat menjauhi lereng dan bantaran sungai hingga situasi membaik.












