Aliansi Indonesia apresiasi penangkapan Roy Suryo-Tifa oleh Polda Metro Jaya

Lembaga Aliansi Indonesia (LAI) menyampaikan apresiasi atas penangkapan tersangka kasus fitnah ijazah Presiden RI ke-7, Joko Widodo (Jokowi).
“Meskipun sangat terlambat, ketegasan Polda Metro dengan menangkap kedua tersangka dalam kasus tersebut tetap layak diapresiasi,” kata Kepala Sekretariat Umum (KASUM) LAI Muhammad Safei, Jumat (19/06/2026).
Menurut Safei, sudah setahun lebih ruang publik terutama di media sosial dan televisi sangat tidak sehat akibat kasus tersebut.
“Selama setahun lebih, kita sebagai masyarakat disuguhi tontonan yang sangat tidak sehat, yang berseliweran di medsos, juga di sebagian stasiun televisi yang seperti memberi panggung untuk tontonan yang sangat tidak beradab. Ruang publik bebas diakses oleh siapapun, dan dampaknya ke masyarakat terutama generasi muda sangat tidak sehat,” imbuhnya.
Safei menegaskan, pembunuhan karakter atau fitnah dengan berkedok penelitian itu sangat tidak baik untuk dicontoh oleh generasi muda.
“Kalau nanti di kalangan generasi penerus kita pada saling menjatuhkan, memfitnah orang, membunuh karakter orang, ya karena ada contohnya. Apalagi ditambahi disuguhi tayangan televisi idi mana bukan mengedepankan argumentasi yang rasional, tapi hanya jurus ‘ngeyel’ pokoknya, ya nanti akan ditiru oleh generasi muda,” lanjutnya.
Masalah ijazah Jokowi itu seharusnya sudah selesai setelah pihak Universitas Gajah Mada (UGM) selaku institusi yang menerbitkan menyatakan bahwa benar Jokowi alumni Fakultas Kehutanan UGM, dan ijazahnya benar diterbitkan oleh UGM.
“Harusnya sudah selesai di situ. Tapi memang indikasinya niatnya bukan untuk mencari kebenaran, tapi membuat kegaduhan sambil membunuh karakter Pak Jokowi,” ujar Safei.
Bahwa ada keberatan dari pihak kuasa hukum Roy Suryo dan dr. Tifa terkait penangkapan tersebut, menurut Safei itu hal yang biasa.
“Namanya juga mewakili kepentingan kliennya, ya biasa itu. Kan sejak awal juga, terutama setelah penetapan para tersangka, pihak Roy Suryo cs tidak mau menempuh jalur hukum, yaitu melalui pra-peradilan, tapi memilih memainkan narasi untuk mempengaruhi opini publik. Jadi ya lagu lama lah,” tegasnya.
Tentang dugaan adanya motif politik serta adanya pihak tokoh besar di balik kasus tersebut, Safei membenarkannya.
“Oh iya. Indikasinya jelas motifnya politik. Bahwa ada tokoh besar di balik kasus tersebut, saya kira orang tidak harus pintar-pintar amat untuk tahu. Tapi dalam koridor hukum, hal itu masih bersifat dugaan. Kita harap Roy Suryo dan Tifa mau membuka siapa di belakang mereka, itu tentu saja kalau mereka tidak mau pasang badan menanggung semuanya sendirian. Tapi kalau pasang badan, ya kemungkinan besar tokoh besar di belakang itu tidak diungkap. Biasalah permainan politik,” pungkasnya.










