Menkeu Purbaya Kisahkan Kiprahnya Bantu Jokowi: Untung Ada Saya

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa perekonomian Indonesia memiliki pola siklus bisnis yang berulang di setiap masa pemerintahan.
“Ekonomi itu ekspansi, resesi, ekspansi, resesi. Rata-rata tujuh tahun ekspansi, satu tahun resesi. Tujuh tahun ekspansi lagi, satu tahun resesi lagi. Nah, masa downturn itu masa-masa kritis,” jelas Purbaya dalam Investor Daily Summit (IDS) 2025 di JICC Senayan, Jakarta, Kamis (9/10/2025).
Menurutnya, jika pengambil kebijakan salah arah dalam menghadapi periode krisis, maka kejadian serupa seperti era Presiden Soeharto bisa terulang.
“Ada zaman Gus Dur, terus zaman Pak SBY. Lalu pada tahun 2008 aman, 2008–2009 naik lagi berekspansi,” ujarnya.
“Nah, 2015, waktu Pak Jokowi ambil kekuasaan, suasananya goncang sekali. Dia hampir jatuh, hitungannya ya, 2016 harusnya jatuh dia. Ekonomi jatuh, dia jatuh. Untung ada saya ya,” katanya disambut tawa peserta.
Purbaya menuturkan, dirinya sering kali dianggap tidak memahami ekonomi atau tidak memiliki pengalaman di bidang fiskal dan moneter.
Namun, ia menyebut telah memberikan masukan ekonomi sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hingga Presiden Joko Widodo (Jokowi).
“Saya kasih masukan terus, dari zaman Pak SBY sampai Pak Jokowi juga. Cuma enggak dibayar, gratis,” ujarnya.
Pada masa pemerintahan Jokowi, Purbaya keluar dari Dana Reksa dan kemudian bergabung dengan Kantor Staf Presiden (KSP).
Pada 2015, ia memberikan masukan penting agar Indonesia tidak terjerumus dalam resesi besar.
“Zaman Pak Harto sinyal ini keluar 12 bulan, jatuh. Zaman Gus Dur, sinyal keluar 11 bulan kemudian, jatuh. Jadi memang ada sinyal-sinyal yang benar-benar keluar. Ini kita hitung secara matematis,” ungkapnya.
“Jadi Pak Jokowi sempat kesel juga sama saya. Tapi akhirnya beliau nanya, ‘Saya harus apa?’ Ya saya bantu betulin ekonomi yang abal-abal itu, sampai selesai,” tutup Purbaya.











