Oknum Wartawan-LSM Karbitan Kian Menjamur Gentayangan Masuk Wilayah Sragen, Senior Media Bambang : Bikin Lurah-lurah Pada Pusing
”Saya itu paham didatangi wartawan LSM sungguhan dengan tidaknya. Yang mencari data untuk keperluan berita atau hanya mengorek saja juga bisa bedakan. Banyak yang datang ke kantor atau nemui saya itu karbitan kwalitasnya meragukan. Mereka hanya mengaku wartawan, tapi sebetulnya punya maksud lain. Terakhir kemarin malah ada yang minta ditempat hajatan, saya geram nggak tak kasih saja,” ungkapnya.
Oknum yang mengaku Wartawan dan aktivis LSM itu, kata dia, biasa datang berkelompok. Terkadang mereka datang sendiri, namun beberapa hari kemudian muncul teman-temannya.
"Orang yang datang pertama itu seolah-olah memberi kabar kepada teman-temannya bahwa kemarin saya datang kekantor ini dan dapat uang segini. Dia lalu meminta temannya datang kekantor itu untuk melakukan hal yang sama,” paparnya.
Menyorot hal ini, Bambang Cetul, salah satu senior Media berpostur tambun terkenal supel ini juga membeberkan, oknum baik LSM sampai wartawan karbitan identik datang tak diundang seperti jaelangkung, tapi pulangnya minta uang jajan mirip tuyul.
Inilah kebiasaan wartawan karbitan yang kerap meresahkan dan kerap gentayangan disetiap daerah, hingga pada akhirnya menjadikan citra nama baik wartawan dan media yang berkualitas menjadi tercoreng dan menjadi salah satu persoalan yang kerap menodai citra jurnalis di hadapan masyarakat. Di tengah perkembangan jurnalisme digital saat ini, fenomena itu ternyata masih saja ditemui.
Menyikapi keadaan saat ini, seringkali orang umum tertipu oleh kelakuan sebagian oknum wartawan atau LSM yang tak jelas semacam ini. Mereka biasanya kerap membawa bukti Id-Card serta Surat Tugas dalam menjalankan aksinya. Fungsinya sudah jelas, tentunya agar para korbannya merasa percaya bahwa mereka adalah benar-benar wartawan atau LSM.
"Ada yang konyol, sebagian dari mereka memiliki surat kabar kemediaan yang sebenarnya dibuat sendiri, dicetak sendiri dan memaksakan orang untuk membelinya. Jaman canggih, ada yang membuat website sendiri, chanel youtobe sendiri. Namun mereka tak sadar banyak orang-orang Ite menyimak dan tidak bisa dibodohi oleh mereka. Waspada, jika adanya data membuat sendiri dengan dilengkapi nomor legalitas yang sekedar nyomot di internet. Jika kita kedatangan para oknum seperti ini adakalanya kita cek saja valid tidaknya ID PERS yang mereka gunakan," urainya.
Diungkapkan Bambang, hal ini tentu sudah pasti akan menjadi jebakan para oknum agar target mau memberikan sejumlah uang yang bisa cukup fantastis sebagai uang tutup mulut. Tapi disaat ini mereka sadar bahwa dengan menyebut nominal, mereka akan dengan mudah dijebloskan ke penjara. Sehingga di era sekarang para oknum wartawan karbitan ini tidak berani menyebut nominal. Tapi tenang, mereka tetap bisa dijerat tentang pasal penipuan ataupun Pemerasan dengan disertai Ancaman.
"Para oknum kerap datang berdalih ini itu untuk wawancara, padahal nulis aja nggak pernah. Ada yang diwawancarakan justru tidak mengarah pada substansi kejurnalistikan. Melainkan seolah mengorek setiap kemungkinan adanya kesalahan yang dilakukan untuk bisa dijadikan ancaman pemberitaan, wes ngeneki sing marai lurah-lurah pusing,"tandasnya.