Sepanjang Jalan Perbatasan Sragen-Magetan Jawa Timur Menuai Sorotan Berbagai Pihak, Diduga Banyak Aksi Berkeliaran Oknum Mafia BBM Jenis Solar. Masyarakat Banyak Yang Gerah
Kemudian keluh kesah juga dirasakan hingga sekitar warga masyarakat Kabupaten Madiun, warga berinisial (ES) yang bekerja di sebuah biro perjalanan wisata. Pihaknya mengaku armada wisatanya sering kesulitan ketika hendak hendak mengisi BBM, bahkan untuk pengisian bus pariwisatanya juga harus dibatasi.
" Mungkin penyebabnya truk itulah, bus kami jadi kesulitan untuk mendapatkan solar. Bila pun dapat dibatasi hanya boleh isi Rp300 ribu. Katanya stok di SPBU gak bisa memenuhi ditambah harus menunjukkan barkot," ungkapnya.
Salah satu narasumber lain, warga masyarakat setempat inisial, R, (35) saat dijumpai awak media jugan mengatakan jika dia bersama rekan lainnya juga kerap melihat truk serupa mengisi BBM di salah satu SPBU wilayah Jawa Timur bagian barat menuju perbatasan Jawa Tengah tepatnya menuju Kabupaten Sragen itu.
Dari data informasi dan pantauam dilapangan, diduga pembawa armada sampai truk mengangsu solar hingga sampai full tank atau ribuan liter. Padahal, secara umum ada yang hanya bisa membeli maksiam Rp300 ribu rupiah saja, tetapi truk yang diduga melangsir BBM itu dengan leluasa mengisi BBM bolak balik.
Bahkan untuk pengisian bisa sampai 30 menit lamanya, kemudian sampai bolak-balik beberapa kali mengisi akan tetapi tak ada teguran dari petugas SPBU sekalipun seperti sudah terkoordinir antara pihak terduga pelaku dengan pihak SPBU.
Atas dasar temuan itu, perihal yang membuat keluhan dan kecemburuan sosial warga terjadi ketika disaat hanya membutuhkan cuma 5 liter untuk kebutuhan pertanian saja, tapi malah ditanyai dan diminta sejumlah surat keterangan oleh petugas SPBU.
" Bahkan waktu solar agak sulit dulu, truk tersebut bisa isi full tank terkesan dibebaskan, padahal yang lain gak bisa. Ada sempat truk lain yang protes ke petugas SPBU, tapi petugas bilang kalau sopir truk yang diduga langsir BBM itu kenalan bos SPBU situ," ucapnya.
Pada dasarnya para warga sempat melihat sendiri transaksi tersebut, namun warga tak berani protes karena sadar diri hanyabwarga biasa. Keresahan warga pun terjadi. Para warga pun sampai banyak hafal ciri-ciri sopir hingga jenis armadanya. Meski armada ataupun truk bergonta ganti warna, bisa dipastikan truk yang dibawa pasti yang memiliki bak belakang yang ditutup terpal sampai batas atas sisi kanan kiri dan belakang.
"Ya jelas kami merasa kecewa dan masyarakat tentunya dirugikam. Untuk membeli sedikit ke SPBU saja harus mengurus surat-surat dari desa agar dapat jatah solar untuk pertanian. Saya emosi sebenarnya, namun bagaimana lagi. Sebenarnya itu tugas aparat penegak hukum untuk menindak," kesalnya.