Sejumlah kota besar di pulau Jawa alami penurunan tanah serius
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menambahkan kondisi geologi berupa tanah lunak dan sedimen muda menjadi faktor utama, yang diperparah oleh aktivitas manusia, seperti urbanisasi masif, beban bangunan, dan eksploitasi air tanah.
Ketika penurunan tanah ini berpadu dengan kenaikan muka laut akibat pemanasan global, risikonya semakin besar, mulai dari banjir rob permanen, kerusakan infrastruktur, hingga penurunan kualitas hidup masyarakat. “Dampaknya bukan hanya lingkungan, tetapi juga ekonomi karena meningkatnya biaya perbaikan bangunan dan hilangnya wilayah daratan,” ujar Lana.
Badan Geologi mencatat, di wilayah pesisir utara Jawa, seperti Jakarta dan Semarang, penurunan tanah telah membuat sebagian daratan sejajar bahkan lebih rendah dari muka laut. Kondisi ini memicu hilangnya permukiman dan tambak, serta meluasnya banjir rob.
Meski demikian, untuk wilayah Jakarta, Badan Geologi mencatat adanya perlambatan laju penurunan tanah. Berdasarkan pengukuran GPS periode 2015-2023, penurunan tanah berkisar antara 0,05 hingga 5,17 cm per tahun, bahkan relatif tidak terlihat sejak 2020.
Namun, laporan World Economic Forum (WEF) pada November 2025 menyebut sebagian wilayah Jakarta mengalami amblesan hingga 28 cm, dan bersama Semarang disebut sebagai kota yang tenggelam lebih cepat dibanding kenaikan muka air laut.
Temuan ini menegaskan perlunya pengendalian pemanfaatan air tanah dan penataan ruang berkelanjutan untuk menekan risiko bencana jangka panjang di kota-kota besar Pulau Jawa.