Paradoks Kota Sriwijaya: Kaya Warisan, Miskin Regulasi Kesenian  

Ki Edy Susilo
Selasa, 20 Jan 2026  16:56

Kopi saya sudah sampai di dasar cangkir. Ampasnya tertinggal. Orang bilang, ampas kopi bisa diolah jadi masker wajah agar kulit tampak glowing. Tapi maaf, peradaban Palembang tidak butuh kosmetik untuk menutupi keriput kegagalan birokrasi. Kita tidak butuh polesan seremonial yang hanya berkilau semalam—apa yang disebut oleh Guy Debord (1967) sebagai The Society of the Spectacle—sebuah masyarakat yang hanya mementingkan tampilan luar namun kosong secara substansi.
Kita butuh kejujuran. Membiarkan Palembang "sang kota tertua" tetap tanpa Perda Kesenian adalah bentuk penghinaan paling halus terhadap leluhur Sriwijaya. Jika untuk urusan administratif saja kita kalah gesit dari daerah yang usianya jauh lebih muda, maka sebenarnya kita sedang mempertontonkan sebuah lelucon sejarah. Kota yang paling lama berdiri, namun paling lambat memahami jati dirinya sendiri.

Pemerintah Kota dan DPRD Palembang, segera sahkan Perda Kesenian. Jangan sampai sejarah mencatat bahwa di tangan generasi hari ini, keagungan Palembang hanya disisakan sebagai "ampas" yang dibuang setelah sarinya diperas untuk kepentingan citra sesaat.

Hentikan perdebatan istilah, mulai bekerja. Sebelum kopi sejarah kita benar-benar dingin dan basi. (Hanny)

Berita Terkait
Selengkapnya