Menguak Uga Wangsit Siliwangi Bersama Maung & Rajawali: Antara Lauh Mahfuzh dan Bahasa Senja Leluhur

 
Sabtu, 18 Jul 2026  21:46

Para penjaga pengetahuan suci yang memiliki kemampuan mengaksesnya pun menyimpan dan mengembangkan kemampuan tersebut di lingkungan yang sangat terbatas. 

Ketika hasil pengamatan atau wahyu dari Lauh Mahfuzh hendak disampaikan ke publik, isinya disusun ulang menggunakan bahasa simbolis dan metafora yang sulit dimengerti orang awam.

"Gaya bahasa metafora yang dipakai leluhur untuk menyampaikan wahyu, visi ilahiah, serta peristiwa dan tokoh yang dianggap sakral, sejalan dengan konsep yang pernah saya bahas sebelumnya sebagai Bahasa Senja atau Twilight Language," tambahnya.

Sayangnya, perjalanan sejarah kemudian mencatat masalah besar muncul ketika orang-orang yang bukan bagian dari komunitas penjaga rahasia suci mulai berusaha menguak pengetahuan tersebut dengan cara sendiri, semata-mata demi keuntungan pribadi.

"Mereka memanipulasi ilmu perbintangan dan tanda-tanda alam lain untuk membuat ramalan atau prediksi yang seolah-olah benar, padahal sejatinya menyesatkan.

Bahkan ada sebagian kalangan yang memanfaatkan—atau justru sedang dimanfaatkan—kekuatan dari dimensi kegelapan, golongan makhluk gaib yang memang berniat mengambil keuntungan dari ketidaktahuan manusia," tegas pendiri MAUNG dan RAJAWALI ini.

Hady berharap kajian ini dapat membuka wawasan masyarakat agar tidak mudah tertipu penafsiran yang keliru, serta mampu menghargai kebijaksanaan leluhur sebagai warisan pemikiran tinggi, bukan sekadar mitos atau takhayul belaka.

Sebagai penutup kajian ini, Hady mengajak seluruh elemen bangsa untuk kembali bijak dalam memaknai warisan leluhur, menjauhi penafsiran yang menyesatkan, serta menjadikan kearifan lokal sebagai landasan memperkokoh persatuan dan kewibawaan Indonesia.

(Team)

Berita Terkait
Selengkapnya