Rupiah Terus Melemah Sentuh Rp17.825 per Dolar AS, DPP MAUNG Pusat Sorot & Sampaikan Langkah Penyeimbang

 
Rabu, 24 Jun 2026  15:31

Bogor - Aliansinews id. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali terasa tajam. Pada penutupan perdagangan Senin (22/6/2026), mata uang Indonesia ditutup melemah 0,28% ke level Rp17.825 per Dolar AS, melanjutkan tren penurunan yang sudah terjadi sejak akhir pekan lalu. Sebelumnya, Jumat (19/6), rupiah juga terdepresiasi 0,42% dan bertengger di angka Rp17.775/US$.

Pelemahan ini didorong oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Ketidakpastian kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran meningkat tajam setelah Presiden AS Donald Trump kembali mengancam melanjutkan aksi militer, sementara Teheran menutup akses strategis Selat Hormuz.

Situasi ini mendorong investor berbondongbondong mencari perlindungan di Dolar AS, membuat indeks DXY menguat 0,07% ke posisi 100,924. Akibatnya, harga minyak dunia ikut melonjak hingga 1,30% ke level US$81,62 per barel, beban tambahan bagi neraca perdagangan dalam negeri.

Di sisi dalam negeri, Bank Indonesia merespons dengan memperketat aturan pembelian valuta asing. Mulai 1 Juli 2026, batas pembelian valas tunai tanpa dokumen pendukung diturunkan dari US$25.000 menjadi hanya US$10.000 per orang per bulan.

Batas dokumen pendukung transfer ke luar negeri juga diperketat dari US$50.000 menjadi US$25.000. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas pasar valas, namun belum cukup menahan tekanan saat ini.

Merespons dinamika ini, Dewan Pimpinan Pusat Monitor Aparatur Untuk Negara dan Golongan (DPP MAUNG) kembali menyuarakan keprihatinan sekaligus menyajikan pandangan strategis agar tekanan terhadap rupiah tidak berlanjut berkepanjangan.

Ketua Dewan Pembina MAUNG Pusat, Syarief Achmad, menilai gejolak ini tidak hanya soal faktor luar, tapi juga lemahnya penopang nilai tukar dari sisi riil ekonomi. “Kita tidak bisa hanya mengandalkan intervensi pasar atau pengetatan aturan semata.

Saat dolar menguat karena ketegangan dunia, kekuatan rupiah harus ditopang oleh ekspor yang sehat, cadangan devisa yang terjaga, serta pengendalian impor yang cerdas,” ujarnya.

DPP MAUNG mengusulkan langkah konkret sebagai solusi jangka pendek dan menengah:

Berita Terkait
Selengkapnya