Mahasiswa Harus Jadi Teladan Demokrasi Kritis dan Bertanggung Jawab
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa gerakan kritik tidak boleh didasari kebencian. “Kita sepakat bahwa pelaku rusuh harus ditindak agar orang bisa berpikir bahwa gerakan moral itu berbeda dengan gerakan anarkis. Merusak fasilitas berbeda dengan gerakan yang membawa isu-isu substantif,” kata Haekal.
Menurutnya, generasi muda justru harus membangun persatuan dan menyalurkan energi positif melalui gagasan serta dialog. Terlebih di tengah derasnya arus informasi yang rawan memecah belah.
“Kita butuh mengembalikan marwah gerakan cinta tanah air, energi positif dan gagasan persatuan mestilah dibangun terutama di kalangan Gen Z. Kalau bersatu, bisa menjadi kekuatan positif untuk bangsa. Tapi kalau tidak, justru akan menguntungkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,” jelasnya.
Haekal mendorong agar mahasiswa lebih mengedepankan disiplin organisasi, mengutamakan dialog, dan memperkuat jaringan antar kampus maupun komunitas. Dengan begitu, gerakan yang lahir bukan sekadar reaktif.
Terkait laporan adanya penyusup dalam sejumlah aksi, Haekal menyatakan dukungan terhadap langkah aparat kepolisian untuk bertindak tegas. Ia menilai keberadaan penyusup kerap menjadi biang kericuhan yang mencederai gerakan moral mahasiswa.
“Kita mendukung Polri untuk memproses siapa pun yang bukan bagian dari mahasiswa, sesuai hukum yang berlaku,” kata Haekal.
Baginya, generasi Z tidak boleh hanya dipandang sebagai massa aksi di jalanan. Lebih dari itu, mereka adalah calon pemimpin bangsa yang sedang belajar memperjuangkan idealisme.
“Anak muda adalah penjaga moral bangsa. Kalau diarahkan dengan baik, Gen Z bisa menjadi teladan demokrasi yang matang, kritis, dan bertanggung jawab,” pungkasnya( Tim)