Yoyok Sakiran, Ketua DPD BPAN LAI Jateng, Dulu Suka Menindas, Kini Getol Bantu Orang Yang Tertindas

Yoyok Sakiran, Ketua DPD BPAN LAI Jateng, Dulu Suka Menindas, Kini Getol Bantu Orang Yang Tertindas
 
PROFIL & OPINI
Sabtu, 02 Apr 2022  15:30

Nama Yoyok Sakiran, Ketua Badan Penelitian Aset Negara – Lembaga Aliansi Indonesia (BPAN-LAI) Jateng, akhir-akhir ini sering mencuat. Bagi warga masyarakat Kota Wali, Demak khususnya, nama tersebut sudah tidak asing lagi. Begitu pula di Kota Semarang, namanya pun kian dikenal.

Siapa sebenarnya Yoyok Sakiran? Apa saja yang telah diperbuatnya?, sehingga namanya secara pelan tapi pasti, kian kesohor terutama dalam lingkungan lembaga peradilan.

Yang jelas, sosok berperawakan sedikit gemuk ini, sering tampil di lembaga peradilan, khususnya dalam penanganan kasus-kasus sengketa. Anehnya, yang ada dalam pihaknya adalah orang-orang ‘susah’ yang didzolimi oleh pihak lain.

Dia bukan seorang pengacara, karena kuliahnya di Fakultas Hukum Unissula Semarang, hingga kini belum dia tamatkan. Meskipun salah seorang putrinya, telah menyandang gelar SH. Namun dia yang anggota LAI Jateng, mampu merekrut para pengacara handal untuk bergabung dalam organisasinya dan memberikan bantuan kepada rakyat kecil yang membutuhkan perlindungan hukum.

“Dalam menangani suatu kasus, kami tidak pernah melihat besar kecilnya uang yang akan kami terima. Namun lebih mengutamakan, benar tidaknya keterlibatan orang tersebut dalam masalah yang dihadapinya. Kalau dari pengamatan kami, orang tersebut benar. Maka bukan uang lagi yang kami cari, tapi lebih terfokus pada kebenaran yang akan kami tegakkan,” tutur Yoyok Sakiran kepada Media Aliansi Indonesia.

Mantan preman

Upaya pria kelahiran Kota Demak, 27 Januari 1971 ini, memang layak diacungi jempol. Pasalnya, meskipun secara kelembagaan penanganan kasus yang biasanya berlanjut ke sidang di pengadilan sepenuhnya sudah ditangani oleh para pengacaranya, namun dirinya selalu hadir untuk memberikan support, baik kepada sang pengacara maupun kepada pihak yang dibelanya.

“Dengan begitu, orang yang kita bela merasa berbesar hati dan merasa penderitaannya ada yang menemani, sekaligus ada yang membelanya”, tutur putra dari pasangan suami istri Taslim dan ibu Sulimah (almarhumah) ini.

Hati dan perasaan Yoyok Sakiran memang selalu diutamakan untuk menghibur para kliennya. Alasannya, semua itu untuk menebus semua kesalahan dan dosa-dosa yang pernah dia lakukan sebelumnya.

Ayah dari tiga orang putra-putri ini mengakui, di masa mudanya sering sekali menindas dan menyusahkan orang lain, karena profesinya sebagai seorang preman di Jakarta.

“Kini saya sudah benar-benar bertaubat. Dan saya berjanji, hati, pikiran, dan tenaga saya sekarang ini, akan dicurahkan untuk membantu orang-orang kecil yang tertindas,” tutur pria yang juga menjadi Ketua Badan Anti Narkoba (BAN) Jateng ini.

Dikisahkan, Yoyok yang lahir di Desa Kedunguter, Kecamatan Karang Tengah, Kabupaten Demak ini, seusai menamatkan pendidikannya di bangku SLTA, memulai kariernya sebagai karyawan honorer di Gudang Bulog (dulu Dolog) Pedurungan, Kota Semarang.

Namun pekerjaan itu hanya ditekuni selama tiga tahun. Karena tidak ada kejelasan untuk bisa diangkat sebagai karyawan tetap, maka dia hingkang ke Jakarta dan bekerja pada salah satu perusahaan yang menjadi rekanan Bulog. Tapi pekerjaan itu juga dilakukan hanya dalam kurun waktu selama satu tahun. Dan kembali pindah pekerjaan di salah satu perusahaan kontraktor.

Dunia persilatan

Baru bekerja selama enam bulan, dirinya sudah tidak kerasan dan alih profesi menjadi seorang supplier buah di Pasar Induk Kramat Jati Jakarta. Di lingkungan baru inilah kata Yoyok, pihaknya mulai mengenal ‘dunia persilatan’ (demikian Yoyok memberikan istilah).

Nyaris setiap hari selalu beradu fisik, menganiaya orang lain dan selalu melakukan pelanggaran hukum dengan satu tujuan untuk memperoleh uang. Dunia preman benar-benar dia nikmati. Karenanya keluar masuk lembaga pemasyarakatan (LP), bukanlah hal yang aneh bagi dirinya.

Yang mengherankan lagi, meski menjadi seorang narapidana (napi) dan hidup dalam penjara, bukan berarti Yoyok Sakiran tidak memiliki penghasilan. Justru Sebaliknya, dia sangat mudah memperoleh uang. Hal ini dikarenakan posisi dirinya dalam penjara ditunjuk sebagai ketua Suku Jawa.

“Ya, di LP, masing-masing suku memiliki seorang Ketua Suku. Ada Suku Jawa atau yang biasa disebut Suku Arek (meliputi napi asal Jabar, Jateng, dan Jatim) Suku Batak, dan suku-suku lainnya”, ujarnya.

Yang membanggakan lagi, dirinya selalu diminta untuk mengamankan para pejabat yang tersandung kasus korupsi dan dipenjara. Dari merekalah, saya bisa memperoleh uang dengan mudah. Dan uang itu, dia kumpulkan untuk kemudian dirinya mendirikan koperasi simpan pinjam di dalam LP.

“Omzet koperasi saya setiap harinya cukup lumayan lah. Jadi begitu keluar dari LP, saya bisa langsung membeli dua unit mobil dan sekaligus memiliki uang yang cukup untuk modal hidup berikutnya”, tandas Yoyok.

Tiga kali keluar masuk dari Lembaga Pemasyarakatan, akhirnya menjadikan Yoyok Sakiran bertaubat. Dan berjanji ingin mengabdikan dirinya membantu rakyat miskin yang tertindas dan berusaha menegakkan kebenaran di atas segala-galanya.

“Tahun 2009 adalah kali terakhir saya keluar dari LP. Dan saya benar-benar ingin hidup normal, ingin berkumpul dengan semua orang tanpa beban”, katanya.

Sejak itu, dia mulai karier barunya sebagai anggota LSM Gibas. Selanjutnya beralih ke LSM Lasykar Merah Putih yang diketuai oleh Mayjen (Purn) Samsu Djalal, baru kemudian melangkahkan kaki ke Lembaga Aliansi Indonesia (LAI) dengan awal jabatan sebagai Ketua DPC LAI Kabupaten Demak.

Selanjutnya, dia dipercaya menjadi Ketua DPD BPAN-LAI Jateng, Ketua BAN Jateng yang bersinergi dengan YLPKK, Pengawas Eksternal Wilayah Bebas Korupsi (WBK) di Polres Demak, dan secara aktif selalu membina anak-anak jalanan serta menyadarkan para anggota preman. Selain itu, dirinya juga selalu ditunjuk sebagai Tim Pemenangan untuk kegitan Pilbub, Pilgub, dan Pilpres.

Karena loyalitasnya kepada rakyat kecil dan juga kepada pemerintah, beberapa kali dirinya diminta oleh parpol tertentu untuk mencaleg-kan diri, namun Yoyok Sakiran menolak secara halus. Alasannya, dirinya ingin mengabdikan diri sepenuhnya untuk kegiatan sosial.

Itulah sebabnya, kini Yoyok Sakiran berangkulan akrab dengan Kemensos dalam kaitannya memberikan bantuan kepada anak-anak jalanan, yatim piatu, dan orang-orang jompo. Di samping selalu aktif menegakkan kebenaran dengan memberikan bantuan hukum kepada orang-orang yang tertindas. Semoga niat baik Yoyok Sakiran selalu memperoleh ridlo dari Allah SWT. Aamiin….!

TAG:
#yoyok sakiran
#jawa tengah
#aliansi
Berita Terkait
H. Djoni Lubis: Ibadah Qurban Implementasi Solidaritas Sosial untuk Mendekatkan Diri Kepada Tuhan
H. Djoni Lubis: Ibadah Qurban Implementasi Solidaritas Sosial untuk Mendekatkan Diri Kepada Tuhan
H. Djoni Lubis: Ibadah Qurban Implementasi Solidaritas Sosial untuk Mendekatkan Diri Kepada Tuhan
H. Djoni Lubis: Ibadah Qurban Implementasi Solidaritas Sosial untuk Mendekatkan Diri Kepada Tuhan
Rekomendasi
1
2
3
4
5
6
7
Kejati Sumsel Selamatkan Uang Negara Rp1,2 Triliun, Tiga Tersangka Baru Kasus KUR Mikro Ditahan
Pemdes Upang Makmur Salurkan BLT Dana Desa (DD) Tahap Pertama untuk Lansia
TNI Hadir Untuk Rakyat, Pembangunan Jembatan Garuda Memasuki Proses Perakitan Besi WF
Imigrasi Klaim Dokumen Lengkap, Keberadaan TKA China di PLTSa Kramasan Tetap Jadi Sorotan
Polda Sumsel Percepat Identifikasi Korban Kecelakaan Maut di Posko DVI Palembang
Indeks Berita