‘Wisata Sungai Kaboeng’, Surga Mesuji yang Mengalir Sebening Kaca

‘Wisata Sungai Kaboeng’, Surga Mesuji yang Mengalir Sebening Kaca
 
LIFESTYLE
Kamis, 23 Sep 2021  11:33

MESUJI. Pick Up setengah tua yang pada bagian pintu depannya terpampang logo Kementerian Perikanan dan Kelautan itu keluar dari gerbang Balai Benih Ikan (BBI) Mesuji tepat pukul sembilan pagi. Gerakannya merangkak seperti anak rusa yang melintasi jalanan mendatar lalu meninggalkan jejak asap atas beberapa pengendara motor yang memacu kendaraan sepelan siput, seolah sedang menyesali kedatangan pagi yang terlalu cepat.

“Kita singgahi Recky,” kata Kepala BBI Mesuji, Sean Guritno yang duduk di sebelah saya, usai mematikan ponsel dan memasukan kembali ke sakunya.

“Di rumahnya?” tanya saya.

“Ya. Di Sungaibadak.”

Mobil kemudian melaju dalam kecepatan antara 40 -50 Km per jam dan terus bertahan dalam kecepatan itu hingga tiba ke rumah yang kami tuju tiga puluh menit kemudian meski setelah memasuki halaman, saya dan Sean rupanya harus menunggu sebab Recky sedang menjemput anaknya dan itulah alasan yang tepat untuk kami menolak ngopi setelah Recky tiba.

“Langsung ke lokasi saja!” kata Sean.

“Ya,” saya menguatkan. “Hari makin siang.”

30x20

Tentu saja, Recky akhirnya harus mengalah sebab sama sekali tak memiliki pilihan kecuali bergegas memasuki mobil untuk meneruskan perjalanan menuju obyek wisata Sungai Kaboeng di Desa Wiralagai 1.

Melintasi sepanjang jalan yang sisi kanan dan kirinya sesak dipenuhi pohon pisang, Sean meminta Recky menghubungi Sekreraris Desa, Saiful Salim, terkait ke mana arah yang harus kami tuju saat kami tiba di jembatan pertama Desa Wiralaga 1. Saiful kemudian mengatakan kami harus terus maju hingga jembatan kedua.

“Ada gang masuk di sisi kanan jalan cor setelah melewati makam Pangeran Mad,” kata Saiful melalui sambungan ponsel.

Kami kembali bergerak dalam jarak beberapa puluh meter dan segera tiba di gang yang dimaksud dan ternyata, kami juga harus melanjutkan dengan berjalan kaki sejauh seratus meter sebab taman wisata yang dituju berada tepat di ujung gang itu.

“Konsepnya wisata alam,” kata Saiful setelah kami akhirnya sama-sama tiba. “Perpaduan antara kehidupan pola alam dengan spot-spot menarik di atas dan sekitar sungai yang jernih.”

Salim menerangkan; obyek wisata ini dirancang dengan dua pintu masuk secara terpisah yakni lewat jalur sungai dan darat.

“Jalur sungai berawal dari jembatan pertama tadi,” urai dia. “Sedangkan jalur darat tepat berada di poisisi mobil kita terparkir.”

Untuk tahap awal, Saiful mengatakan sedang membangun gazebo dan panggung berlantai kayu yang saling terhubung yang nantinya, pengunjung bisa menggunakannya sebagai spot selfie.

“Bisa juga untuk menggelar kegiatan rapat, diskusi atau pertunjukan dalam sekala kecil dan kesemuanya berada di atas air,” papar Saiful lagi.

Disamping itu, beberapa titik ayunan dan guest house natural di atas air akan melengkapi keberadaan jalur susur sungai dan penebaran ikan rawa di areal spot yang bisa dipancing.

“Beberapa rumah warga di sepanjang aliran sungai juga akan kita manfaatkan sebagai alternatif penginapan bagi yang ingin bermalam,” Saiful memaparkan.

Sean yang berada paling dekat kemudian menanyakan sebuah spot di sebelah kiri kami yang tampak sedang digarap dan terlihat agak lebih tinggi. “Itu panggung?”

“Bukan,” jawab Saiful. “Tapi menara pandang.”

“Menara pandang?”

“Ya. Menara pandang. Selain sebagai menara pengawasan, nantinya bisa juga dimanfaakan untuk melihat panorama Sungai Kabung dari ketinggian.”

30x20

Di sela-sela Saiful dan Sean berdiskusi terkait kemungkinan spot-spot tambahan, beberapa pekerja mulai berpamitan pulang untuk beristirahat dan akan kembali lagi satu jam kemudian. Usai meraka berlalu, saya kemudian mengajak Recky menuju calon menara pandang itu sekaligus memastikan view terbaik untuk mulai membaca puisi.

“Jadi kemeraman nemei aku,” celetuk Recky dan yang ia maksud adalah perannya saat saya benar-benar akan melakukan pembacaan. Saya sengaja membawa buku ‘Surga Mesuji’ yang berisi puluhan puisi pemenang dan nomine dari Lomba Menulis Puisi Tingkat Nasioanl yang ditaja Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata dan saya memilih puisi ‘Di Mesuji Aku Teringat Dinda’ karya Rizkia Hasmin yang berakhir dengan kalimat: Bolehkah aku sampai padamu dalam rentang waktu yang lama?

Recky kemudian bergumam: “Ai! Laju tekenang dengan zaman masih belinjangan(Jadi teringat dengan masa ketika masih berpacaran dulu)

Kami lalu tertawa.

Saat akan bergabung kembali dengan Saiful dan Sean untuk makan siang di salah satu gazebo beratap daun nipah, saya dan Recky sempat tertegun ketika mengamati aliran air yang begitu jernih di bawah kaki kami: ikan-ikan saling berkejaran, cahaya matahari memulas mulai dari bagian atas hingga menjilat dasar sungai yang penuh gelagah air hingga pesan kedamaian terasa begitu dekat dan merasuk.

Ah! Kami merasa seolah sedang berada di sebuah surga yang terus memanggil untuk disinggahi. (FAJAR-AI)

TAG:
#sungai kaboeng
#desa wiralaga
#mesuji
#wisata
Berita Terkait
Candi Cetho, Candi di Atas Awan nan Mistis dan Eksotik
Candi Cetho, Candi di Atas Awan nan Mistis dan Eksotik
Candi Cetho, Candi di Atas Awan nan Mistis dan Eksotik
Candi Cetho, Candi di Atas Awan nan Mistis dan Eksotik
Rekomendasi
1
2
3
4
5
6
7
Bupati Sukabumi H.Asep Japar Sidak Proyek Jalan Cijaksa–Mataram, Tegaskan Tak Ada Ruang Main Mata dengan Uang Rakyat
Wujud Kepedulian kepada Masyarakat, Babinsa Gotong Royong Perbaiki Jembatan
Debut sempurna Erling Haaland di Piala Dunia
Koalisi Aktivis Revolusioner Sumsel Layangkan Pernyataan Sikap, Soroti Kinerja Pemkot Palembang dan Tuntut Transparansi
Modus baru peredaran narkoba di Jaktim: Pakai stiker sedot WC
Indeks Berita