Tak Terima Dicap Kelompok Radikal, Andi Leo Aktivis Mahasiswa Sumsel Meminta Polisi Mengusut Penyebar Narasi Fitnah.

Tak Terima Dicap Kelompok Radikal, Andi Leo Aktivis Mahasiswa Sumsel Meminta Polisi Mengusut Penyebar Narasi Fitnah.
Foto: Aktivis Mahasiswa Palembang
SUMSEL
Rabu, 05 Jul 2023  22:12

PALEMBANG,Aliansinews.

Merasa tidak terima dirinya dan kawan-kawan (dkk) dituduh (dicap) kelompok radikal menjelang kedatangan RI 2 di Bumi Sriwijaya di tahun 2022, salah seorang Aktivis Mahasiswa Sumsel yakni Andi Leo, meminta pihak kepolisian mengusut kasus ini agar segera menemukan oknum yang tidak bertanggungjawab penyebar narasi fitnah, melalui media sosial (medsos) akun Instagram (IG) yang mengatasnamakan Halimah Klarisya terkait dugaan pencemaran nama baik.

Terkait pencemaran nama baik dirinya, Aktivis Mahasiswa Sumsel Andi Leo mengatakan, semalam sekitar pukul 22.00 Wib Selasa (04/07/23), Andi ini dapat kiriman foto dari temannya, ada foto profil Andi dengan narasi tentang radikal. Itu sumbernya dari akun Instagram (IG), akun IG itu nge dm (ngechat/ngobrol,red) salah satu akun medsos di Kayu Agung. Dikirimlah foto itu melalui medsos akun palsu mengatasnamakan (Halimah Klarisya) dimana akun tersebut minta diviralkan. 

“Kebetulan yang menanggapi obrolan akun palsu tersebut, salah satunya adalah teman saya melalui akunnya. Oleh teman saya, foto yang disebar itu dikirimkanlah ke saya (korban Andi Leo,red), ketika ditelusuri akun yang menyebarkan profil saya tersebut adalah akun palsu, tapi yang kita tahu foto paskah kejadian itu tahun kemarin, dimana Wakil Presiden datang ke Palembang, yang punya foto itu diduga oknum dari kepolisian. Yang disayangkan kenapa foto itu bisa tersebar, terus maksud dan tujuan itu untuk apa, dari oknum yang tidak bertanggungjawab itu,” ungkap Andi Leo.

Menurut Andi, secara pribadi merasa hal itu termasuk kerana pidana yakni pencemaran nama baik atau perbuatan yang tidak menyenangkan. 

“Apa lagi saya di cap sebagai golongan/kelompok radikal, padahal kan kita selama ini melakukan aksi masih sewajarnya, tidak pernah merusak tidak pernah macam-macam, kalau gesekan sedikit yah wajarlah namanya aksi menyampaikan aspirasi. Dan selama aksi juga yang kita bawa selalu aspirasi dari masyarakat, tidak ada kepentingan pribadi dan kepentingan individu,”terang Andi kepada Media Aliansi Indonesia, Rabu (05/07/23). 

Dalam kasus ini, Andi sangat berharap sekali kepada aparat penegak hukum dalam hal ini, agar bisa membantu untuk menelusuri kasus ini sampai tuntas jangan ada pembiaran. 

“Dari kami akan ada tindaklanjut, entah itu berupa laporan  karena pencemaran nama baik. Sedangkan langkah hukum masih disusun sama tim kuasa hukum. Saya sangat menyayangkan atas penyebaran isu ini, kita benar-benar melakukan aksi untuk masyarakat tiba-tiba ada isu generasi kelompok radikal, yang  mengatasnamakan mahasiswa. Padahal kita tahu aksi kita ini benar-benar dari mahasiswa. Sebenarnya atas penyebaran isu ini saya mau minta klarifikasi, tapi saya bingung mau klarifikasi sama siapa sedangkan penyebar isu tersebut tidak jelas siapa orangnya dan beralamat dimana. Namun data tersebut dapat diduga keluar dari Tabes, akan kami pertanyakan ke Tabes kenapa data tersebut bisa bocor keluar, dipergunakan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab,” papar aktivis mahasiswa ini. 

Masih menurut Andi, dalam penyebaran isu ini, bukan main-main apalagi sudah masuk hal yang berbahaya (radikal.red) karena sudah mengganggu keamanan Negara atau perbuatan ekstrem. 

“Dan saya tidak terima dalam isu ini dikatakan sebagai kelompok radikal,”cetus Andi. 

Sementara tanggapan dari Ketua Lembaga Aliansi Indonesia (LAI) Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Sumatera Selatan (Sumsel) Syamsudin Djoesman, mengatakan, yang namanya aktivis itu dilindungi oleh Negara apalagi korban isu ini merupakan mahasiswa. 

“Saya berharap aparat penegak hukum segera menemukan oknum penyebar isu radikal tersebut dan menindaklanjuti fitnahan ini, jangan sampai terjadi lagi dengan aktivis lainnya,”pungkasnya. 

Untuk diketahui, pada pemberitaan sebelumnya Andi Leo dan teman-teman Mahasiswa melakukan aksi demo tolak harga BBM naik kembali digelar di Palembang. Dalam aksi tersebut, selain diwarnai pembakaran ban, mahasiswa juga sempat mencoba mengadang rombongan mobil Wakil Presiden Ma'ruf Amin yang melintas.

Massa yang tergabung dalam aksi tersebut antara lain dari sejumlah organisasi dan mahasiswa. Aksi yang sempat di warnai kericuhan itu terjadi di kawasan Simpang Lampu Merah RS Charitas, Ilir Timur I, Palembang.

Bahkan, saat mobil yang di dalamnya ada Wapres Ma'ruf Amin pun nyaris diseruduk para pendemo. Terkait kejadian itu polisi pun mengamankan sebanyak 27 orang pendemo yang diduga merupakan provokator.

"Ada 27 orang yang diamankan," kata Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Supriadi dikutif dari detikSumut, Rabu (7/9/2022).

Menurut Supriadi, dari hasil pemeriksaan para pendemo yang diamankan, mahasiswa tidak berniat menghentikan mobil Wapres Ma'ruf Amin.

"Dari hasil pemeriksaan, tidak ada itu yang katanya mau menghentikan mobil Pak Wapres. Mereka dari pengakuannya saat itu memang sedang berada di jalan dan petugas sedang berusaha membubarkan mereka," terangnya.

Polisi mengatakan kericuhan terjadi karena massa mengganggu ketertiban lalu lintas, dan tidak mau ditertibkan. Oleh karena itu diamankan 27 orang yang diduga menjadi provokator.

"Jadi mereka ini kan telah menyalahi aturan, mereka menutup akses jalan dan mengganggu ketertiban umum, ketertiban lalu-lintas warga, sehingga petugas berusaha membubarkannya. Akan tetapi sejumlah oknum memanfaatkan situasi itu dengan memprovokasi pendemo yang lainnya," katanya. (Sya)

TAG:
#
Berita Terkait
Kepala Desa Sadarkarya antusias Sambut Tim Penilaian Lomba Desa Tingkat Provinsi.
Kepala Desa Sadarkarya antusias Sambut Tim Penilaian Lomba Desa Tingkat Provinsi.
Kepala Desa Sadarkarya antusias Sambut Tim Penilaian Lomba Desa Tingkat Provinsi.
Kepala Desa Sadarkarya antusias Sambut Tim Penilaian Lomba Desa Tingkat Provinsi.
Rekomendasi
1
2
3
4
5
6
7
2 tersangka kasus narkoba di Polres Ngawi dinikahkan
Boros Rp1 T per bulan, BGN evaluasi insentif SPPG Rp6 Juta per hari
Sadis! Pelajar SMA di Luwu Timur bunuh gadis tetangga gegara cinta tak sampai
Viral TNI hadang massa demo mahasiswa, ini kata Kapuspen
Hendak terbang dengan jet pribadi, penyelundup narkoba buronan Interpol ditangkap di bandara Bali
Indeks Berita