Sekilas Kisah Sosok "JOKO TINGKIR", Petarung Tangguh Penakluk Demak Sekaligus Tokoh Pendiri Keraton Pajang

Sekilas Kisah Sosok "JOKO TINGKIR", Petarung Tangguh Penakluk Demak Sekaligus Tokoh Pendiri Keraton Pajang
 
LIFESTYLE
Jumat, 05 Nov 2021  15:15

Ketua DPC BPAN LAI SRAGEN Awi saat berkunjung sekaligus wisata religi dimakam Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir di Desa Gedongan Kecamatan Plupuh Kabupaten Sragen. Foto : dok/istimewa

SRAGEN – Menilik keberadaan sosok Joko Tingkir mungkin sudah seperti menjadi legenda. Banyak mitos dan kisah-kisah rekaan yang disematkan padanya. Sosoknya yang nyata pun diragukan oleh sebagian orang.

Tentunya hal ini sebuah pernyataan menarik apabila dilontarkan oleh para ahli sejarah di Indonesia.  

Menariknya, terlebih lagi karena kisah Joko Tingkir memiliki kaitan dengan materi sejarah SMA yang akan di jumpai dalam pembahasan Peradaban Islam di Indonesia yang selengkapnya bisa tertulis di sini.

Sebenarnya, siapakah sebenarnya sosok Joko Tingkir? Apakah benar kisah hidupnya diisi dengan hal-hal berbau balas dendam? Apakah benar beliau pernah bertarung dengan siluman buaya hanya dengan menggunakan tangan kosong?

Sultan Hadiwijaya alias Joko Tingkir dari beberapa dari kita mungkin lebih akrab dengan nama sebutan Joko Tingkir dan tidak tahu menahu siapa sebenarnya beliau. Beliau juga dikenal sebagai Sultan Hadiwijaya, merupakan pendiri dari Kerajaan Pajang yang bertahta pada tahun 1568-1586.

Berdasarkan Babad Tanah Jawi (kumpulan teks berbahasa Jawa yang berisi sejarah raja-raja yang pernah berkuasa), selepas wafatnya sultan Trenggono, tahta Kerajaan Demak jatuh ke tangan Sedo Lepen, saudara Trenggono. Ia kemudian dibunuh oleh Prawoto, putra Sultan Trenggono. Kerajaan Demak sendiri sudah berdiri sejak tahun 1500 dengan raja pertamanya Raden Patah.

Pembunuhan yang terjadi ini mengakibatkan terjadinya perang sipil yang mengakibatkan Prawoto dibunuh oleh Aryo Penangsang, putra Sedo Lepen. Hal ini kemudian menyebabkan Joko Tingkir sebagai ipar dari Sedo Lepen angkat senjata, dan dengan dukungan tokoh terkemuka kerajaan seperti Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi, Joko Tingkir berhasil mengalahkan Aryo Penangsang dan memperoleh tahta Kesultanan Demak.

Setelah memenangkan perang sipil dan menguasai Kerajaan Demak, Joko Tingkir memindahkan ibukota dari Demak ke Pajang dan berakhirlah kesultanan Demak dan sejarah kerajaan Pajang pun dimulai.

Sosok Joko Tingkir memegang peran penting dalam berdirinya kesultanan Mataram Islam dengan memberikan Ki Ageng Pemanahan dan putranya, Sutawijaya, wilayah di Kotagede yang nantinya menjadi Ibukota kesultanan Mataram Islam. Kini Kotagede masuk ke dalam wilayah Yogyakarta.

Mengetahui perjalanan Joko Tingkir yang dalam hidupnya tak luput dari balas dendam menjadikan kisahnya menarik untuk diangkat ke dalam pementasan seperti drama atau ketoprak bahkan ahli sejarah. Tak mengherankan jika pada akhirnya ada seorang politisi atau siapapun yang menjadikan kisah Joko Tingkir sebagai contoh dari tema kejadian balas dendam.

Membicarakan Joko Tingkir sejatinya tidaklah lengkap jika tidak menyertakan banyaknya mitos yang menyelimuti kisah-kisah beliau. Saya sendiri mulai mengenal kisah Joko Tingkir saat masih duduk di bangku SD. Saat itu guru menerangkan kesaktian-kesaktian yang dipunyai Joko Tingkir. Seingat saya saat itu pak guru membekali dengan sebuah buku cerita bergambar yang disukai oleh kami, murid-muridnya. Sayangnya saya tidak ingat dengan pasti bagaimana kisah tersebut diceritakan pada masa itu. Sejauh yang bisa saya ingat, terdapat adegan Joko Tingkir mengalahkan siluman buaya saat beliau sedang mengarungi sungai menggunakan rakit bersama rekannya.

Selain itu, saya juga ingat bahwa ada adegan Joko Tingkir sedang berkelahi melawan kerbau besar. Pertempuran sengit tersebut berakhir dengan kemenangan berhasil diraih Joko Tingkir.

Peninggalan Getek Joko Tingkir. Foto: ist

(Ini adalah kayu bagian dari getek/rakit yang dahulu digunakan sebagai perahu oleh Joko Tingkir bersama 3 orang sahabatnya yaitu Monco Nagoro, Wilo Marto, dan Wuragil. Dalam rangka perjalanan dari kediaman Ki Ageng Kebo Kanigoro (Ki Banyu Biru) di Jatingarang Weu Sukoharjo menuju Butuh Plupuh Sragen.

Perjalanannya menyusuri sungai bengawan solo dan berlabuh ditempat yang tidah jauh dari kediaman ayahandanya Ki Ageng Kebo Kenongo/Ki Ageng Butuh, kira-kira 100 meter sebelah selatan makam.

Bagian kayu getek ini diperkirakan sampai sekarang kira2 sudah 400 tahun jika dilihat dari masa kerajaan pajang pada kisaran tahun 1546-1587.) (Ist)

Mitos tak dapat dipisahkan jika membahas kehebatan Joko Tingkir saja. Ada banyak mitos tentang beliau yang dikisahkan secara turun temurun dalam masyarakat.

Kisah hidup Joko Tingkir telah menjadi mitos bagi sebagian masyarakat Indonesia, boleh jadi ada beberapa masyarakat yang sudah berada dalam tahap pemikiran bahwa Joko Tingkir alias Sultan Hadiwijaya tidak pernah benar-benar ada lantaran banyaknya mitos yang menjadikan sosoknya menjadi legenda.

Salah satu kisah rakyat paling populer adalah saat Joko Tingkir berhasil memenangkan pertarungan melawan buaya dan kemudian buaya yang dikalahkan tadi mengawal perjalanan Joko Tingkir.

Kisah bermula saat Joko Tingkir mendapat restu dari gurunya untuk kembali ke Demak (Sebelumnya Joko Tingkir pernah tinggal di Demak sebagai perwira di pasukan kerajaan tetapi harus diusir akibat suatu insiden).

Joko Tingkir pergi dengan menaiki sebuah rakit bersama tiga orang rekannya. Di tengah perjalanan, Joko Tingkir dihadang pasukan buaya. Setelah melewati pertarungan sengit, Joko Tingkir berhasil mengalahkan raja buaya. Sebagai bentuk pengakuan atas kekalahannya, gerombolan buaya itu pun berbalik menjadi pengawal rombongan Joko Tingkir.

Kisah berikutnya, setelah merapatkan rakitnya di tepi sungai, Joko Tingkir melihat seekor kerbau besar. Sebelum berangkat ke Demak memang Joko Tingkir telah diberitahu gurunya bahwa sesampainya di lokasi dia akan bertemu kerbau.

Joko Tingkir segera memasukkan tanah yang diberikan oleh gurunya ke mulut si kerbau. Sang Guru telah berpesan bahwa dengan memberikan tanah ke kerbau, kerbau tersebut akan mengamuk dan Joko Tingkir bisa unjuk gigi di hadapan raja. Tujuannya adalah supaya Sang Raja kembali menerima Joko Tingkir sebagai perwira setelah melihat aksinya.

Tujuan tersebut akhirnya mencapai hasil setelah si kerbau berhasil ditaklukan Joko Tingkir. Sang Raja pun kembali menerima Joko Tingkir sebagai abdinya.

Joko Tingkir alias Sultan Hadiwijaya adalah salah satu tokoh yang ada di dalam sejarah Indonesia. Sayangnya, disebabkan terlalu banyaknya mitos-mitos yang berkembang di masyarakat mengakibatkan pengetahuan seputar Joko Tingkir menjadi tertutup kabut.

Sulit untuk diketahui mana cerita yang sungguh terjadi dan mana yang sekadar rekaan. Sebagai generasi muda yang cerdas, sudah semestinya kita mengetahui dengan lebih detail tentang tokoh ini. Tentunya dengan menelusuri kisahnya secara terperinci supaya dapat dibedakan dengan tegas mana yang fakta dan mana yang fiktif.

Sebagaimana tokoh-tokoh lain, Joko Tingkir turut berpengaruh dalam membentuk sejarah Indonesia. Kebijakan yang diambilnya untuk menyerahkan sebidang tanah kepada Ki Ageng Pemanahan adalah tonggak awal berdirinya salah satu kerajaan besar di Indonesia.

Peristiwa itu menjadi gerbang terbentuknya Kerajaan Mataram Islam yang kini masih berdiri di Indonesia walau harus terpecah pada masa kolonial melalui Perjanjian Giyanti. Perjanjian Giyanti mengakibatkan Mataram Islam harus dibagi menjadi dua yang kini kita kenal dengan Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Melihat peran Joko Tingkir yang besar dalam sejarah Indonesia, sangat disayangkan terdapat banyak mitos yang bukannya membuat sosok Joko Tingkir disegani justru bisa membuat orang jadi meragukan keberadaannya. (Tim)

TAG:
#joko tingkir
#petilasan
#wisata
#sragen
#jawa tengah
Berita Terkait
Petilasan Prabu Siliwangi di Kaki Gunung Ciremai
Petilasan Prabu Siliwangi di Kaki Gunung Ciremai
Petilasan Prabu Siliwangi di Kaki Gunung Ciremai
Petilasan Prabu Siliwangi di Kaki Gunung Ciremai
Rekomendasi
1
2
3
4
5
6
7
Bupati Sukabumi H.Asep Japar Sidak Proyek Jalan Cijaksa–Mataram, Tegaskan Tak Ada Ruang Main Mata dengan Uang Rakyat
Wujud Kepedulian kepada Masyarakat, Babinsa Gotong Royong Perbaiki Jembatan
Debut sempurna Erling Haaland di Piala Dunia
Koalisi Aktivis Revolusioner Sumsel Layangkan Pernyataan Sikap, Soroti Kinerja Pemkot Palembang dan Tuntut Transparansi
Modus baru peredaran narkoba di Jaktim: Pakai stiker sedot WC
Indeks Berita