Piala Dunia Sepakbola U-17, Pelipur Lara Batalnya Piala Dunia U-20 di Indonesia. Inikah Awal Keretakan Jokowi dan PDIP?

Piala Dunia Sepakbola U-17, Pelipur Lara Batalnya Piala Dunia U-20 di Indonesia. Inikah Awal Keretakan Jokowi dan PDIP?
 
PROFIL & OPINI
Senin, 06 Nov 2023  16:45

Sepakbola adalah olahraga paling populer di dunia, bahkan gelaran putaran final Piala Dunia (PD) dijuluki “The Greatest Show on Earth”, pertunjukkan terbesar di dunia bahkan lebih besar dari Olimpiade yang mempertandingan semua cabang olahraga yang diakui Komite Olimpiade Internasional (IOC) dan diikuti oleh hampir seluruh negara di dunia.

Di Indonesia pun sepakbola menjadi olahraga paling digemari, sangat merakyat dan memiliki sejarah panjang. Tercatat tiga klub/perserikatan sepakbola tertua yang bahkan telah berdiri sebelum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yaitu PSM (Makasar – 1915), Persis (Solo – 1923) dan Persebaya (Surabaya – 1927). Sedangkan PSSI sendiri baru berdiri pada tahun 1930 yang waktu itu masih bernama Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia.

Indonesia juga tampil di PD 1938 namun atas nama Hindia Belanda dan harus langsung angkat koper sejak pertandingan pertama melawan Hongaria. Setelah itu capaian tertinggi Indonesia adalah tampil di Olimpiade 1956.

Indonesia menjadi kekuatan sepakbola yang cukup disegani di kawasan Asia hingga awal tahun 1980-an. Namun sejak itu prestasi dan reputasi sepakbola Indonesia terus merosot, bahkan untuk menjadi juara di AFF (Asia Tenggara) di tingkat senior pun Indonesia belum pernah mampu. Sekedar meraih medali emas di Sea Games pun sudah dianggap prestasi luar biasa dan disambut gegap gempita.

Selain sejarah panjang klub-klub sepakbola, Indonesia juga dikenal memiliki basis pendukung/supporter yang dikenal sangat militan dan fanatic, sebut saja Jakmania (Jakarta), Bonek (Surabaya), Singo Edan/Aremania (Malang), Viking (Bandung), Pasopati (Solo) dan sebagainya. Meskipun prestasi sepakbola Indonesia di level internasional belum menunjukkan peningkatan yang menggembirakan, dan kompetisi lokal lebih sering diwarnai skandal, kericuhan dan kekisruhan, namun militansi dan fanatisme supporter tidak pernah luntur.

Berbagai upaya telah ditempuh untuk mengangkat prestasi sepakbola dan menorehkan sejarah sepakbola Indonesia di kancah Internasional, dari naturalisasi pemain, penataan kompetisi hingga upaya untuk menjadi tuan rumah turnamen sepakbola Internasional.

Tak heran ketika pada Oktober 2019 Indonesia terpilih menjadi tuan rumah PD U-20 tahun 2021 dengan mengalahkan peserta lain langsung disambut dengan sukacita dan berbagai persiapan pun dikebut. Namun sayang karena adalah pandemi covid-19 PD U-20 tahun 2021 ditiadakan, namun Indonesia tetap ditunjuk menjadi tuan rumah penyelenggara PD U-20 berikutnya pada tahun 2023.

Terpilihnya Indonesia menjadi tuan rumah meski dari segi prestasi masih jauh dari layak, menunjukkan sisi lain, yaitu kuatnya kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia untuk menyelenggarakan event berskala internasional setelah sebelumnya sukses menyelenggarakan Asian Games 2018.

Singkat cerita 6 stadion dipilih oleh PSSI sebagai tempat penyelenggara pertandingan PD U-20 2023 yaitu Stadion Utama Gelora Bung Karno (Jakarta), Stadion Jaka Baring (Palembang), Stadion Si Jalak Harupat (Bandung), Stadion Manahan (Solo), Stadion Gelora Bung Tomo (Surabaya) dan Stadion Kapten I Wayan Cipta (Bali). Selanjutnya adalah tugas Kementerian PUPR untuk merevitalisasi ke-enam stadion tersebut dengan anggaran trilyunan Rupiah.

Namun apa daya, hanya dua bulan menjelang pelaksanaan Indonesia harus menerima kenyataan pahit, FIFA membatalkan Indonesia sebagai PD U-20 yang sedianya diselenggarakan pada bulan Mei-Juni 2023. Dan sebagai gantinya Argentina ditunjuk sebagai tuan rumah.

Pembatalan oleh FIFA itu diawali dengan penolakan Gubernur Bali I Wayan Koster bagi timnas Israel yang merupakan salah satu peserta yang lolos ke PD U-20 untuk mengikuti drawing (undian) group di Bali pada bulan Maret 2023.

Berikutnya penolakan yang sama disampaikan oleh Gubernur Jawa Tengah (saat) itu Ganjar Pranowo dan politikus PDIP lainnya. Indonesia pun terancam, bukan hanya terancama batal menjadi tuan rumah, namun juga terancam mendapat sanksi FIFA karena olehraga memiliki logika tersendiri yang disebut “lex sportiva” yang otonom dan tak terkait dengan politik.

Tanda-tanda akan dibatalkannya Indonesia menjadi tuan rumah PD U-20 makin menguat saat pada tanggal 26 Maret 2023 FIFA membatalkan drawing di Bali yang sedianya akan dilaksanakan pada tanggal 31 Maret. 

Presiden Jokowi pun bergerak cepat dengan mengutus Erick Thohir selaku Ketua Umum PSSI untuk menemui Presiden FIFA mencari solusi agar Indonesia tetap menjadi tuan rumah PD U-20.

Namun apa daya, olahraga memiliki prinsip “lex sportiva” logika tersendiri yang otonom sehingga pada tanggal 29 Maret 2023 FIFA resmi membatalkan Indonesia sebagai tuan ruamah PD U-20 2023.

Meskipun mengajak untuk tidak menyalahkan siapapun pasca batalnya Indonesia menjadi tuan rumah PD U-20, nampak jelas raut muka kekecewaan mendalam Presiden Jokowi, bahkan dia sempat mengungkit tentang “City Host Commitment”, yaitu komitmen atau garansi Kepala Daerah yang menjadi tuan rumah PD U-20.

Dari kekecewaan Presiden Jokwi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa penolakan I Wayan Koster dan Ganjar Pranowo selaku Kepala Daerah dari PDI serta politikus PDIP lainnya atas penolakan terhadap timnas Israel yang berujung dibatalkannya Indonesia menjadi tuan rumah, tak pernah dikonsultasikan kepada Jokowi selaku Presiden dan selaku penandatangan “Country Commitment”.

Berikutnya tentu hancurnya mimpi anak-anak muda Indonesia untuk tampil di PD, hancurnya mimpi rakyat Indonesia khususnya penggemar sepakbola untuk menyaksikan PD di negeri sendiri, dan yang sudah pasti sia-sianya anggaran trilyunan Rupiah untuk merivitalisasi stadion dan persiapan lainnya. 

Namun Presiden Jokowi dan PSSI di bawah kepemimpinan Erick Thohir tidak berkecil hati, berbagai upaya tetap dilakukan. Lobi-lobi intensif bukan saja berhasil menghindarkan Indonesia dari mendapat sanksi, bahkan pada tanggal 23 Juni 2023 FIFA resmi menunjuk Indonesia menjadi PD U-17.

Ditunjuknya Indonesia menjadi tuan rumah PD U-17 seolah menjadi pelipur lara setelah batalnya menjadi tuan rumah PD U-20. Namun seperti judul lagu Band Padi “Semua Tak Sama”, PD U-17 tetap tak sama dengan PD U-20 baik dari sisi prestis maupun popularitasnya. Hubungan Jokowi dengan Ganjar Pranowo (yang notabene dia dorong menjadi Capres berikutnya) dan PDIP sepertinya juga tak lagi sama.

Ketika hubungan yang tak lagi sama itu terkonfirmasi dengan Gibran yang menjadi Cawapres Prabowo, berbagai spekulasi dan narasi itu dibangun di antaranya perpanjangan masa jabatan presiden tiga periode yang ditolak oleh PDIP.

Benar atau tidak tentu hanya Presiden Jokowi dan PDIP yang tahu. Namun jika menilik Gibran yang langsung menyebut Piala Dunia U-17 usai mendaftar sebagai Cawapres (bersama Prabowo sebagai Capres) itu (bagi saya) seperti mengkonfirmasi bahwa pangkal keretakan Jokowi dan PDIP (juga Ganjar) adalah batalnya Indonesia menjadi tuan rumah PD U-20 2023. 

Penulis: Muhammad Safei (Ketua Bidang Media dan Komunikasi DPP Pernusa / Staf Ahli Lembaga Aliansi Indonesia)

TAG:
#piala dunia
#sepakbola
#pilpres
#jokowi
#pdip
Berita Terkait
Tantangan terbesar Presiden RI mendatang: Meneruskan program hilirisasi Presiden Jokowi
Tantangan terbesar Presiden RI mendatang: Meneruskan program hilirisasi Presiden Jokowi
Tantangan terbesar Presiden RI mendatang: Meneruskan program hilirisasi Presiden Jokowi
Tantangan terbesar Presiden RI mendatang: Meneruskan program hilirisasi Presiden Jokowi
Rekomendasi
1
2
3
4
5
6
7
Dandim 1016/Plk Berikan Motivasi Kepada Ratusan Siswa SMA Negeri 5 Palangka Raya
Sorotan terhadap Proyek Rehabilitasi Kantor Camat Muara Belida
Logo Mitra Aliansi Terpajang Bertahun-tahun di Kantor PT SAIND, Status Kemitraan Dipertanyakan
Jalan Kecamatan Muara Telang Rusak Parah, Warga Soroti Ketimpangan Status Lumbung Pangan Nasional
Kejati Sumsel Bongkar Dugaan Korupsi Kredit BRI, Negara Terselamatkan Rp1,2 Triliun
Indeks Berita