Menguak Kabut Hitam Ritual Seks di Gunung Kemukus Sragen Jawa Tengah dan Sekilas Kisah Perjalanan Pangeran Samudro

Menguak Kabut Hitam Ritual Seks di Gunung Kemukus Sragen Jawa Tengah dan Sekilas Kisah Perjalanan Pangeran Samudro
 
LIFESTYLE
Minggu, 28 Nov 2021  10:02

Penampakan Makam Pangeran Samudro dari depan pintu masuk sebelum direhab beberapa waktu lalu. (foto: Dok/Spiritual Abah Salam dan Eka Awi Ketua BPAN LAI SRAGEN)

SRAGEN – Ritual seks untuk mencari kekayaan di Gunung Kemukus, Desa Pendem Kecamatan Sumberlawang Kabupaten Sragen, Jawa Tengah mungkin sudah bukan menjadi rahasia umum lagi. Tempat itu dikenal sebagai tempat pemujaan mencari kekayaan. Satu hal yang membuat pemujaan Gunung Kemukus terkenal yakni ritual seks berzinah bukan dengan pasangan di tempat itu sebagai syarat mendapat kekayaan.

Kabarnya, setiap peziarah harus berziarah ke makam Pangeran Samudra sebanyak tujuh kali pada Kamis pahing atau Kamis wage atau pada hari-hari, dan bulan yang diyakini baik. Mereka melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang bukan suami atau istrinya. 

Konon bila ingin mendapatkan kekayaan mesti berzinah selama 7 kali, kemudian setelah itu ada ritual-ritual lainnya. Ritual seks itu biasa dilakukan pada Jumat pon. Hingga pada akhirnya, ritual seks itu yang berimbas pada suburnya prostitusi di kawasan itu. Bila menyambangi kawasan itu pada Jumat pon akan menemukan warung remang-remang dengan PSK yang siap melayani sebagai bagian ritual.

Setelah melakukan hubungan intim dengan orang lain yang bukan pasangan sahnya, mereka berdua harus bertemu lagi, jika berhasil lalu melakukan selamatan dan syukuran di Gunung Kemukus.

Tapi seperti dikatakan Ketua BPAN (Badan Penelitian Aset Negara) Aliansi Indonesia Cabang Kabupaten Sragen Eka Awi mengatakan, mereka yang melakukan ritual seks untuk kekayaan itu adalah aliran sesat. Perlu dibedakan antara peziarah ke makam Pangeran Samudro dan para pelaku aliran sesat ritual seks.

“Apakah ritual seks bebas diizinkan? Ziarah silakan, ritual seks bebas jangan,” tegasnya.

Menurut Eka Awi, sebenarnya tidak pernah ada syarat ritual seks seperti itu.

“Peziarah cukup datang dan langsung menuju ke makam. Setelah menyampaikan maksud dan tujuan berziarah, lalu dipersilakan masuk ke dalam ruangan tempat Pangeran Samudera dan ibu tirinya, Ontrowulan. Setelah itu pulang ke rumah,” katanya.

Ritual seks di Gunung Kemukus ini pernah diramaikan oleh media Australia, SBS (Special Broadcasting Service) yang berjudul Sex Mountain. SBS adalah satu dari lima lembaga penyiaran dengan jaringan luas di Australia.

Beberapa waktu lalu, Pemda setempat secara resmi menutup aktivitas yang berhubungan dengan ritual seks tersebut. Penertiban melibatkan Satuan Polisi Pamong Praja, Kepolisian Sektor, serta Komando Rayon Militer. Sasarannya, para pemilik hiburan karaoke dan rumah penginapan di sekitar lokasi ziarah Gunung Kemukus.

Paska penutupan, memang terlihat sepi, namun ada beberapa warung makan dan penginapan yang nekat masih buka. Sejumlah wanita penghibur masih ada, tapi tidak berani terang-terangan, sembunyi-sembunyi praktiknya.

Lalu siapa Pangeran Samudro yang makamnya ada di Gunung Kemukus itu? Menurut berbagai sumber akhirnya mengupas secara rinci soal Gunung Kemukus, bahwa banyak yang salah kaprah soal gunung itu.

Lanjut sosok muda yang akrab disapa Awi, Dia menyampaikan mereka yang melakukan ritual seks di Gunung Kemukus jelas-jelas salah. Karena sejatinya, Pangeran Samudro ini penyebar Islam dan keturunan Majapahit. Tapi entah mengapa ada orang-orang yang menyesatkan tempat itu menjadi tempat pemujaan.

Pangeran Samudro diutus penguasa Demak untuk menyatukan keturunan Majapahit yang tercerai berai. Dia juga setelah mendapat bimbingan agama dari Sunan Kalijaga kemudian menyebarkan Islam.

Tapi sayangnya di tengah perjalanan, Pangeran Samudro sakit dan meninggal dunia. Kemudian dimakamkan di Gunung Kemukus. Tak lama, ibundanya yang mendengar dia sakit menyusul dari Demak, hingga kemudian dimakamkan juga di sana.

"Tak diketahui sejak kapan Gunung Kemukus berubah jadi wisata ritual seks. Tapi pastinya, soal Gunung Kemukus ini bahkan sampai dibahas media asing dengan disebut sebagai gunung seks. Pemprov Jateng tentunya telah mengkaji untuk membubarkan prostitusi di kawasan itu," lanjut Awi.

Lalu, siapa Pangeran Samudro yang makamnya ada di gunung Kemukus? Pangeran Samudro adalah putra Raja Majapahit terakhir dari ibu selir. Ketika Kerajaan Majapahit runtuh, Pangeran Samudro tidak ikut melarikan diri seperti saudara-saudaranya yang lain.

Bahkan beliau bersama ibunya ikut diboyong ke Demak Bintoro oleh Sultan Demak. Pada waktu itu beliau telah berusia 18 tahun.

Selama berada di Demak, Pangeran Samudro mendapat bimbingan ilmu agama dari Sunan Kalijaga. Ketika dirasa cukup dan usianya telah semakin dewasa maka atas petunjuk dari Sultan Demak melalui Sunan Kalijaga, Pangeran Samudro diperintahkan untuk berguru tentang agama Islam kepada Kyai Ageng Gugur dari Desa Pandan Gugur di lereng Gunung Lawu.

Ia sekaligus mengemban misi suci untuk menyatukan saudara-saudaranya yang telah tercerai berai. Pangeran Samudro mentaati nasehat tersebut dan pergi berguru pada Kyai Ageng Gugur dengan didampingi oleh dua abdinya yang setia.

Selama berguru kepada Kyai Ageng Gugur, Pangeran diberi ilmu tentang intisari ajaran Islam secara mendalam. Selama itu pula, Pangeran tidak mengetahui bahwa Kyai Ageng Gugur sebenarnya adalah kakaknya sendiri.

Ketika dirasa Pangeran Samudro telah menguasai ilmu yang diajarkan, Kyai Ageng Gugur baru menceritakan siapa beliau sesungguhnya. Betapa terkejutnya Pangeran Samudro mendengar cerita tersebut, karena beliau teringat akan amanat Sultan Demak untuk menyatukan saudara-saudaranya.

Akhirnya, Pangeran Samudro menceritakan tentang amanat tersebut. Ternyata Kyai Ageng Gugur bisa menerima dan bersedia dipersatukan kembali dan ikut membangun Kerajaan Demak.

Setelah selesai berguru dan tercapai maksud tujuannya, Pangeran Samudro dan dua abdinya kembali ke Demak. Mereka berjalan ke arah barat dan sampailah mereka di Desa Gondang Jenalas (sekarang wilayah Gemolong), kemudian mereka beristirahat untuk melepaskan lelah.

Di dukuh tersebut mereka bertemu dengan orang yang berasal dari Demak (Wulucumbu Demak) yang bernama Kyai Kamaliman. Di dukuh ini, Pangeran Samudro berniat bermukim sementara untuk menyebarkan agama Islam.

Setelah dirasa cukup, mereka kembali melanjutkan perjalanan ke arah barat dan sampai di suatu tempat di padang “oro-oro”. Sampai sekarang tempat tersebut dikenal dengan nama Dusun Kabar, Desa Bogorame (Gemolong).

Di tempat tersebut Pangeran Samudro terserang sakit panas. Walaupun demikian, perjalanan tetap dilanjutkan sampai ke Dukuh Doyong (wilayah Kecamatan Miri). Karena sakit yang diderita semakin parah, Pangeran memutuskan untuk beristirahat di dukuh tersebut.

Ketika sakitnya semakin parah dan dirasa akan sampai pada ajalnya, Pangeran Samudro memerintahkan salah seorang abdinya untuk mengabarkan kondisinya kepada Sultan di Demak.

Seusai mendengar amanat Sultan, abdi tersebut diperintahkan untuk segera kembali. Dan ketika abdi tersebut kembali ke tempat di mana Pangeran beristirahat, Pangeran Samudro telah meninggal dunia.

Selanjutnya sesuai dengan petunjuk Sultan, jasad Pangeran Samudro dimakamkan di perbukitan di sebelah barat dukuh tersebut.

Sebelum pemakaman, diadakan musyawarah diantara orang-orang yang memiliki lahan di sekitar wilayah itu. Mereka bersepakat bahwa lokasi bekas peristirahatan Pangeran Samudro akan didirikan desa baru dan diberi nama “Dukuh Samudro” yang sampai kini terkenal dengan nama “Dukuh Mudro”.

Pangeran Samudro dan pengikutnya sebenarnya sangat diharapkan untuk kembali ke Kasultanan Demak oleh Sultan Demak, namun ajal terlebih dahulu menjemput Pangeran Samudro.

Sultan Demak mengatakan, “Menurut hematku bahwa sakitnya Si Samudro itu sudah tidak bisa diharapkan untuk membaik, dan jauh kemungkinan untuk sampai ke Demak. Kiranya jika memang sudah menjadi suratan Yang Maha Kuasa bahwasanya sampai di situ saja riwayatnya, maka saya memberi petunjuk jika Si Samudro sudah sampai ajalnya, maka kebumikanlah jasadnya pada suatu tempat di bukit arah barat laut dari tempat Pangeran Samudro meninggal. Sebab boleh jadi kelak di sekitar tempat itu akan menjadi ramai sehingga dijadikan tauladan orang-orang di sana,”.

Pada awalnya keadaan di lokasi Makam Pangeran Samudro sangatlah sepi dan jarang dijamah orang karena letaknya di tengah hutan belantara, serta banyak dihuni oleh binatang-binatang buas. Namun, sedikit demi sedikit keadaan berubah setelah daerah tersebut dihuni oleh para penduduk.

Selanjutnya diterangkan, bahwa di atas bukit tempat Pangeran Samudro dimakamkan, apabila menjelang musim hujan ataupun kemarau tampaklah kabut-kabut hitam seperti asap (kukus).

Karena hal itulah, penduduk setempat menyebut bukit itu “Gunung Kemukus” sampai dengan saat ini.(Tim)

TAG:
#kemukus
#sragen
#wisata
#jawa tengah
Berita Terkait
‘Wisata Sungai Kaboeng’, Surga Mesuji yang Mengalir Sebening Kaca
‘Wisata Sungai Kaboeng’, Surga Mesuji yang Mengalir Sebening Kaca
‘Wisata Sungai Kaboeng’, Surga Mesuji yang Mengalir Sebening Kaca
‘Wisata Sungai Kaboeng’, Surga Mesuji yang Mengalir Sebening Kaca
Rekomendasi
1
2
3
4
5
6
7
Boros Rp1 T per bulan, BGN evaluasi insentif SPPG Rp6 Juta per hari
Sadis! Pelajar SMA di Luwu Timur bunuh gadis tetangga gegara cinta tak sampai
Viral TNI hadang massa demo mahasiswa, ini kata Kapuspen
Hendak terbang dengan jet pribadi, penyelundup narkoba buronan Interpol ditangkap di bandara Bali
Heboh CCTV di kawasan Bundaran HI mati saat demo mahasiswa, ini kata Pemprov DKI
Indeks Berita