Sumber Kemarahan Publik Berujung Demo Besar di RI: Ekonomi Susah dan Krisis Kepercayaan pada Pemerintah

Sumber Kemarahan Publik Berujung Demo Besar di RI: Ekonomi Susah dan Krisis Kepercayaan pada Pemerintah
Foto: Demo mahasiswa di Kota Solo.
PERISTIWA
Kamis, 04 Sep 2025  13:42

Aksi demonstrasi yang berlangsung beberapa waktu terakhir bersumber dari kemarahan warga Indonesia atas kondisi perekonomian saat ini.

Banyak sekali catatan yang harus dipenuhi oleh Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Researcher bagian ekonomi untuk Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Deni Friawan menyebut persoalan utama adalah krisis kepercayaan kepada pemerintah akibat runtuhnya legitimasi fiskal menjadi akar dari gelombang demonstrasi.

Menurutnya, masyarakat diminta membayar pajak, iuran, hingga menerima kebijakan efisiensi pemerintah.

Namun di sisi lain, publik melihat tanda-tanda pemborosan, seperti penambahan jumlah kementerian dan lembaga, praktik rangkap jabatan di BUMN, serta menaikkan gaji dan tunjangan bagi pejabat dan anggota DPR.

"Kontradiksi ini menciptakan krisis legitimasi fiskal. Karena pada dasarnya fondasi kepercayaan yang menopangnya itu runtuh. Dalam teori ekonomi politik kita ketahui bahwa pajak adalah kontrak sosial antara rakyat dengan negara," ujar Deni dalam diskusi publik CSIS.

Selain itu, kondisi ini juga mencerminkan ketimpangan dan beban ekonomi yang semakin berat.

Pertumbuhan ekonomi memang stabil di kisaran 5%, namun Deni menilai distribusinya semakin timpang karena bias pada sektor padat modal.

Gini ratio masih di angka 0,39, kelas menengah yang terus menurun, dan banyaknya masyarakat yang berada hanya sedikit di atas garis kemiskinan.

"Kalau pakai standar Bank Dunia yang sekarang mungkin tingkat kemiskinannya lebih tinggi lagi. Belakangan ini tingkat inflasi umum itu rendah, tapi pada waktu tertentu tingkat volatile food sangat tinggi. Misalnya hari ini harga beras itu kisaran Rp14.000 sampai Rp18.000, tengahnya misalnya Rp16.000 itu sangat-sangat membebani masyarakat," ujarnya.

Dari sisi ketenagakerjaan, Deni menyoroti tingginya tingkat PHK dan pekerja informal yang tidak dapat menghasilkan pendapatan layak yang mampu mengimbangi biaya hidup.

Di tengah berbagai beban ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat, pemerintah justru mencanangkan program-program mahal yang dinilai Deni masih tidak efektif untuk mendor0ng perekonomian.

Seperti salah satunya program Makan Bergizi Gratis yang dianggarkan Rp 335 triliun dan anggaran belanja untuk pertahanan pertahanan, keamanan, dan ketertiban Rp 565 triliun mulai tahun depan.

"Jadi permasalahannya adalah secara ironis arah dari belanja negara justru juga tidak adil dan malah menambah luka. Belanja bantuan dan perlindungan sosial itu terus mengecil," ujar Deni.

"Permasalahannya adalah bagaimana anggaran itu dibelanjakan dan pertanggungjawaban serta transparansinya itu masih tidak jelas hingga hari ini. Apakah dana-dana yang dikeluarkan itu untuk membeli alat-alat yang baik, yang proper dalam organisasi angkatan pertahanan kita, atau kepolisian kita, atau malah itu menjadi alat untuk memukul rakyatnya sendiri," ujarnya.

TAG:
#demo
#pemerintah
#ekonomi
Berita Terkait
Pasutri Penghasut Aksi Geruduk Rumah Ahmad Sahroni, Dibekuk Polisi
Pasutri Penghasut Aksi Geruduk Rumah Ahmad Sahroni, Dibekuk Polisi
Pasutri Penghasut Aksi Geruduk Rumah Ahmad Sahroni, Dibekuk Polisi
Pasutri Penghasut Aksi Geruduk Rumah Ahmad Sahroni, Dibekuk Polisi
Rekomendasi
1
2
3
4
5
6
7
DPU Kabupaten Sukabumi Tingkatkan Kualitas Ruas Jalan Jaksa Agung R. Suprapto di Palabuhanratu
DPU Kabupaten Sukabumi Mulai Tangani Ruas Jalan Singpangkaret–Pasirmalang, Perkuat Konektivitas Wilayah Surade
Kebakaran Lahan Ancam Aset Dinas PU Sukabumi, Respons Cepat Damkar Cegah Api Merembet ke Ruang Genset
Sempat dilaporkan diculik, ini profil Atlet Golf Jesslyn Wijaya 
Begini kondisi prajurit TNI korban pembunuhan sadis di Tangerang saat ditemukan
Indeks Berita