Dorong Kreatifitas Pembelajaran Guru dan Siswa, SMKN 1 Mondokan Sragen Getol Canangkan Program Penggerak dan Karakter

SRAGEN - Seorang guru adalah orangtua kedua bagi para siswa, setelah kedua orangtuanya di rumah. Maka sewajarnya guru mempunyai peranan besar dalam mentransfer ilmu dan memberi bekal ilmu kepada para siswanya.
Betapa pentingnya peran yang dimiliki, sehingga guru dinilai sebagai sosok berpendidikan yang diharapkan mampu mendidik anak bangsa untuk masa depan. Membentuk generasi penerus bangsa yang berkarakter di indonesia.
Hal tersebut sama halnya dengan komitmen para pendidik di SMK N 1 Mondokan, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Bahwasanya guru tidak sekedar mendidik dan memberikan materi akademik saja di sekolah, namun lebih dari itu. Guru diharapkan juga dapat menanamkan nilai-nilai positif pada siswa, karena guru merupakan role model bagi para siswanya.
Untuk mendukung hal ini, para guru mengokohkan karakter dalam membangun karakter para siswanya. Disisi lain, dampak persaingan global yang makin berat, maka revitalisasi SMK N 1 Mondokan diharapkan dapat mendongkrak kualitas tenaga kerja Indonesia yang berkualitas.
Disela jam belajar para murid, hal itu juga diungkapkan Suyanto salah satu guru muda di SMK N 1 Mondokan tersebut. Dimana beberapa program sekolahan yang ada diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap peningkatan mutu SMK dengan orientasi baru.
Perkembangan teknologi desruptif menjadi perhatian utama dalam revitalisasi dan pemutakhiran bidang-bidang keahlian di SMK. Penyelerasan dan pemutakhiran kurikulum SMK memprioritaskan kesesuaian perkembangan teknologi dan kesesuaian dengan kebutuhan riil dunia usaha dan industri. Pemerintah juga telah mendukung program kerja sama industri dengan melibatkan peran guru kejuruan melalui program keahlian yang didukung dengan beberapa program lainnya.
"Sistem yang kami kembangkan meliputi penyelarasan, kedisiplinan, pemutakhiran kurikulum sampai inovasi pembelajaran. Yang tak kalah pentingnya, siswa diberi bekal karakter. Era persaingan yang makin ketat ini, banyak perusahaan membutuhkan hal itu," ungkapnya beberapa waktu lalu saat dijumpai awak media.
Suyanto juga menambahkan, desain pendidikan SMK N 1 Mondokan dikembangkan berangkat dari kebutuhan dan pengakuan dunia usaha dan industri. Analisis kebutuhan itu kemudian dirumuskan ke dalam standar-standar kompetensi disertai dengan jenis sertifikasi dan teknik pengujiannya.
Dari standarisasi ini SMK mengembangkan kurikulum dan sistem pembelajarannya. Proses standarisasi dan sertifikasi serta penyusunan kurikulum melibatkan pihak-pihak terkait, terutama sinergi sekolah dan industri. Dengan demikian, siswa dididik sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
"Menilik prospek dunia usaha dan industri sektor formal di Indonesia dan persaingan tenaga kerja yang makin ketat, skenario pertama tentang karakter diharapkan menjadi lorong yang bisa menyalurkan tenaga kerja ke industri dan dunia usaha menjadi mitra sekolah. Usai lulus nanti setidaknya murid sudah mempunyai bekal kemampuan mengisi pasar tenaga kerja terampil yang relevan. Apalagi beberapa waktu lalu pihak kami juga telah MoU pengembangan kurikulum dengan beberapa perusahaan," jelasnya.
Pada dasarnya, lanjut Suyanto, pendidikan karakter sendiri yang getol terus dicanangkan itu bertujuan meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.
"Pada tataran yang lebih luas, pendidikan karakter nantinya diharapkan menjadi budaya sekolah, karena juga terkait dengan manajemen atau pengelolaan sekolah. Pengelolaan yang dimaksud bagaimana pendidikan karakter direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah secara memadai,"imbuhnya.

Senada juga diungkapkan Ferdian leli, salah satu guru muda lain di SMK N 1 Mondokan itu. Dia menyampaikan dalam rangka memberikan nilai positif bagi peserta didik maka pelaksanaan penguatan pendidikan karakter perlu disupport oleh keteladanan, pengajaran dan penguatan. Dari sisi keteladanan, dimana guru, orang tua atau anggota masyarakat dapat menjadi panutan atau model positif bagi peserta didik, sedangkan dari sisi pengajaran, guru dan keluarga mengajarkan karakter atau nilai-nilai yang baik serta menggabungkan pengetahuan akademik dengan nilai-nilai kearifan lokal, dan yang lebih penting juga dari sisi penguatan dimana sekolah dan keluarga harus dapat meningkatkan atau memperkuat karakter dan nilai-nilai yang baik dengan kegiatan pendukung di luar sekolah, di luar rumah, maupun dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
"Alhamdulilah beberapa waktu lalu dari semua sistem yang kami terapkan, prestasi SMK N 1 Mondokan terakhir menjuarai di bidang produksi tingkat Kabupaten. Prestasi yang lain beberapa bulan yang lalu juga juara LKS 3, juara 1 TKJ, TKR, Tata Busana," bebernya.
Pada dasarnya, penguatan pendidikan bermuara kepada terbentuknya peserta didik yang memiliki keselarasan dan keseimbangan antara pengetahuan akademik, sikap / prilaku yang baik dan ketrampilan.
Masih menurut Ferdian, peningkatan kebekerjaan lulusan SMK akan didorong melalui pemberian sertifikasi kompetensi lulusan melalui Lembaga. Selain itu, perluasan teaching factory di SMK dirancang agar mendorong inovasi dan produktivitas lulusan SMK.
"Semoga dengan selalu melakukan penguatan pendidikan karakter pula akan menghasilkan peserta didik yang tidak hanya mempunyai pengetahuan akademik yang baik tetapi juga memiliki karakter yang berkualitas. Disisi lain juga meliputi penyelarasan dan pemutakhiran kurikulum, inovasi pembelajaran, pemenuhan dan peningkatan profesionalitas guru dan tenaga kependidikan, kemitraan sekolah dengan dunia usaha atau dunia industri dan perguruan tinggi, standarisasi sarana dan prasarana utama dan penataan atau pengelolaan kelembagaan." tambahnya. (Tim)












