Ada Pemuda 'Njengat' di Tugu Macan

MESUJI. Pertigaan Tugu Macan Desa Brabasan Kecamatan Tanjungraya Kabupaten Mesuj malam itu terlihat agak ramai. Dua tiga motor dan mobil berlalu-lalang, beberapa anak-anak usia Sekolah Dasar bermain dan bercengkrama di pelataran tugu yang salah satu cahaya lampunya memulas pertigaan. Sepasang anak muda mamatikan mesin motor tepat di depan lokasi Tongkrongan Wong Palembang lalu salah satu dari mereka membeli sebungkus rokok sebelum kembali melesat menuju Taman Kehati Mesuji.
Dari arah Simpangpematang, sebuah truk tanpa muatan perlahan menurunkan kecepatan sebelum berbelok ke kiri, melintasi tiang listrik yang tegak menopang kabel jalur layaknya sebatang pohon meranggas yang kehilangan semangat. Tak ada lagi burung yang hinggap di antara kabel yang hitam menjuntai itu sebagaimana tak ada juga suara klakson yang memekakan. Panorama langit begitu lembut menghiasi malam dan kondisi itu semakin menegaskan gemerlapnya taburan bintang.
Di bawah tiang listrik yang menghadap badan jalan berlapis hot mix baru, Muhammad Arifianto (23) melap puluhan gelas dan beberapa teko pelastik sebelum di susun di atas meja kayu berltaplak karung bekas. Tak ada tenda atau atap yang menaunginya sebagiamana pedagang kaki lima yang lain tapi untuk mengatakan ia tidak sedang berdagang, tentu saja, itu sama sekali tak mungkin.
Bagian depan meja Arif yang menjutai ke bawah juga memampangkan sebuah merk berlatar orange dengan tulisan menyala yang sedikit menyentak: Minuman Rempah Mataram: Njengat. Sebuah narasi yang cukup menggelitik terutama bagi mereka yang baru tiba yang hampir pasti akan segera tercenung. Turun makin ke bawah, di sisi tengah bagian kanan, sebuah tulisan lain juga terpampang menyempurnakan: Gerekan Pemuda Milenial Mesuji.

Dalam masa yang embun bahkan belum merambat, Arif sudah terlihat sibuk menghadapi panci kecil yang mendidih di atas kompor gas. Ia, tampaknya, sengaja menyambut rombongan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Mesuji yang datang malam itu. Mereka segera memesan minuman ‘aneh’ itu dan Arif yang mengenakan kaus hitam bertuliskan Bangkit Adalah Kita sama sekali tak membuang kesempatan untuk segera menyeduh.
“Apa ini semacam minuman kesehatan?” tanya Ketua PWI Mesuji, Apriadi, yang malam itu tampak berwajah layaknya seseorang yang ingin banyak tahu. Ia didampingi Sekretaris PWI Mesuji, Yuekli dan salah satu Dewan Penasehat, Nara Sukarna, serta jurnalis Radar Tuba, Misdi dan beberapa kolega yang lain.
“Minuman rempah asal Jawa, Bang,” jawab Arif. “Terdiri dari kayu manis, jahe, serat kayu secang, cengkih, daun cengkih, tangkai cengkih, pala, serai, daun salam dan gula batu,”
“Kenapa namanya njengat? Maksud saya, apakah itu sebuah nama atau semacam gerakan?”
“Bisa dibilang dua-duanya, Bang,” Arif menjawab. “Dalam bahasa Jawa, njengat artinya bangkit dan itu adalah nama gerakan kami para pemuda wirausaha.”
“Bangkit adalah kita?” Apri menyebutkan tagline di kaus yang dikenakan Arif.
“Iya, Bang, “ jawab Arif. “Bangkit adalah kita; itu nama gerakannya.”
Apri kemudian tertawa. “Saya kira njengat yang lain.”
Di sela-sela tawa yang tidak begitu deras, Arif kemudian menyebutkan kalau minuman itu lazim dikenal dengan wedang uwuh yang beberapa litarasi menyebutkan memiliki fungsi yang baik bagi kesehatan. Sebut misalnya; mengatasi asam urat, mencegah penyakit jantung, meningkatkan kekebalan tubuh, mengobati batuk, mengobati sakit tenggorokan, menstabilkan gula darah dan meningkatkan stamina dan vitalitas.
Pasca pandemi Covid-19 melanda, beberapa anak muda di Mesuji memang terpantau mulai bergerak dengan salah satunya membuat semacam gerakan yang kemudian mereka beri nama: Bangkit Adalah Kita! Tak jelas siapa yang menginisiasi gerakan ini namun sejak bergaungnya gerakan UMKM Adalah Kita, kalimat ‘adalah kita’ terasa begitu akrab bagi beberapa kalangan sebagai sebuah gerakan sosial masyarakat arus bawah. Dan apa yang dilakukan Arif adalah satu di antaranya.

“Biasanya tutup jam berapa?” Apri kembali bertanya seusai menyeruput minuman yang disuguhkan.
“Tidak tentu, Bang,” jawab Arif. “Antara pukul satu sampai dua pagi.”
Dan itu adalah jawaban yang memperlihatkan semangat kebangkitan bagi seorang anak muda yang ingin terus bergerak.
Keberadaan Arif di lokasi itu sebenarnya tak lepas dari upaya Aris Renaldi, pengelola Tongkrongan Wong Pelmbang –dengan rangkaian kalimat kecil pada bagian bawah banner pajangannya: UMKM Adalah Kita-- yang sejak beberapa waktu terakhir terlihat semakin aktif. Pada suatu malam Arif mendatanginya dengan sangaja dan Aris sangat mengerti kalau kedatangan anak muda itu tentu bukan tanpa alasan. Karena itulah, ketika Arif bertanya, “apakah saya bisa ikut berdagang di sini?” dengan tanpa ragu Aris segera menjawab:
“Gelar saja di dekat saya. Kita bangkit sama-sama."
Dan begitulah sebuah semangat akhirnya mendorong keduanya untuk memaknai kata bangkit dari pandemi Covid yang sempat menyesakan.
(Fajar AI)












