Operasi SAR Ponpes Al-Khoziny Resmi Ditutup, Keluarga Korban Bertahan di Tenda

Memasuki hari kesembilan pascaruntuhnya bangunan musala di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, tim SAR gabungan resmi menutup operasi pencarian korban, Selasa (7/10/2025).
Pantauan di lapangan menunjukkan seluruh puing bangunan telah diratakan. Area yang sebelumnya menjadi lokasi pencarian kini tampak bersih dan rata dengan tanah.
Tim gabungan dari Basarnas, BNPB, TNI, dan Polri juga sudah menghentikan seluruh aktivitas evakuasi di lokasi.
Meskipun sisa reruntuhan masih terlihat berserakan, tidak ada lagi struktur besar yang berdiri di atas lahan ponpes tersebut.
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menyatakan secara resmi bahwa operasi pencarian dan pertolongan (SAR) di Ponpes Al-Khoziny telah berakhir.
“Operasi SAR di Pondok Pesantren Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo, saya nyatakan ditutup,” ujar Syafii saat apel pasukan tim SAR gabungan di halaman ponpes, Selasa (7/10/2025).
Syafii menjelaskan, keputusan ini diambil setelah hasil pemantauan di lapangan memastikan tidak ditemukan lagi tanda-tanda korban tertimbun di antara puing-puing bangunan.
Selanjutnya, Basarnas menyerahkan proses pemulihan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur, termasuk penanganan bagi keluarga korban serta pihak ponpes.
Keluarga Korban Bertahan di Tenda
Ratusan keluarga dari puluhan santri korban ambruknya musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny Sidoarjo memilih bertahan di tenda istirahat milik BPBD Jawa Timur, Selasa (7/10/2025) siang.
Tenda yang berdiri tak jauh dari crisis center Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Polda Jatim itu menjadi tempat berkumpul para keluarga korban.
Meskipun banyak yang tidak saling mengenal, suasana di dalam tenda tampak akrab. Mereka saling menguatkan karena merasa senasib dan sepenanggungan.
Salah satu keluarga korban, Sholehudin, ayah dari santri Ahmad Suwaifi mengaku telah berhari-hari menunggu kepastian nasib anaknya.
Ia sebelumnya mendirikan posko di lokasi kejadian, tetapi sejak pencarian korban dihentikan, dirinya memilih menunggu di tenda istirahat BPBD.
“Saya mulai pindah pagi ini karena poskonya sudah ditutup,” ujarnya, Selasa (7/10/2025).
Kini, Sholehudin sudah tidak lagi terlalu cemas. Ia meyakini anaknya termasuk di antara korban yang ditemukan dan tengah dalam proses identifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jatim.
“Saya sudah serahkan data ante mortem berupa foto terbaru dan ijazah anak saya. Sampel DNA juga sudah saya berikan berupa air liur,” ungkapnya.
Berdasarkan data RS Bhayangkara Polda Jatim, hingga Selasa siang telah diterima 62 kantong jenazah, dengan 12 korban berhasil teridentifikasi.
Sebanyak 50 kantong lainnya masih dalam proses identifikasi, termasuk tujuh kantong berisi potongan tubuh (body part).












