Siklon tropis, bencana alam paling merusak kedua setelah gempa bumi

Siklon Tropis Senyar dalam beberapa hari terakhir disebut setelah memicu bencana banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatera Utara.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan resmi terkait Siklon Tropis Senyar yang mulai mendekati wilayah Indonesia sejak 26 November 2025. Pada saat itu, sistem siklon bergerak ke arah barat menuju daratan Aceh.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa pergerakan siklon ini meningkatkan suplai air dari perairan hangat di Selat Malaka, sehingga memicu pembentukan awan hujan di wilayah utara Sumatera.
Pada fase ini, pusat Siklon Tropis Senyar berada di koordinat 5.0° LU dan 98.0° BT dengan tekanan rendah sekitar 998 hPa serta kecepatan angin maksimum mencapai 43 knot atau sekitar 80 km/jam.
"Dalam 48 jam ke depan Siklon Tropis Senyar diperkirakan akan menurun intensitasnya menjadi Depresi Tropis," kata Faisal, dikutip dari laman BMKG, Kamis (27/11/2025).
Siklon tropis, bencana paling berbahaya setelah gempa bumi
Dikutip dari situs World Meteorological Organiztion, Ssiklon tropis adalah badai yang berputar cepat yang dimulai di atas lautan tropis, dan badai dapat bervariasi dalam kecepatan, ukuran, dan intensitas.
Siklon tropis merupakan salah satu ancaman terbesar bagi kehidupan dan harta benda, bahkan pada tahap awal perkembangannya. Siklus hidupnya dapat berlangsung hanya dalam 24 jam, sementara yang lain dapat berlangsung hingga sebulan.
Siklon tropis seringkali mengandung berbagai bahaya, seperti angin kencang, hujan deras, gelombang badai dan banjir, petir, dan tornado. Ketika bahaya-bahaya ini berinteraksi, bahaya dan ancaman yang ditimbulkan oleh siklon tropis dapat meningkat secara signifikan.
Siklon tropis merupakan bencana alam paling berbahaya kedua setelah gempa bumi.
Setiap tahun, siklon tropis menyebabkan banyak korban jiwa, kematian, dan kerusakan signifikan pada properti dan infrastruktur dalam jangka waktu tertentu.
Selama 50 tahun terakhir, 1.945 bencana telah dikaitkan dengan siklon tropis, yang menewaskan 779.324 orang dan menyebabkan kerugian ekonomi sebesar US$ 1,4 triliun – rata-rata 43 kematian dan kerusakan sebesar US$ 78 juta setiap harinya.
Siklon tropis mewakili 17% bencana yang berhubungan dengan cuaca, iklim, dan air dan bertanggung jawab atas sepertiga kematian (38%) dan kerugian ekonomi (38%) selama periode 50 tahun.
Dalam jangka panjang, seperti Badai Katrina tahun 2005, Topan Haiyan tahun 2013, Badai Irma dan Maria tahun 2017, dan Siklon Tropis Harold tahun 2020, dampaknya dapat bertahan selama bertahun-tahun, sementara masyarakat masih berupaya pulih dari kerusakan dan pengungsian yang terjadi.
Apa Itu Siklon Tropis Senyar?
Siklon Tropis Senyar adalah sistem badai tropis yang pertama kali teridentifikasi pada November 2025. Fenomena ini berasal dari Bibit Siklon 95B yang terpantau sejak 21 November 2025 di perairan timur Aceh, tepatnya di Selat Malaka.
Proses penguatannya berlangsung bertahap, dimulai dari depresi tropis hingga berkembang menjadi siklon tropis pada 26 November 2025 pukul 07.00 WIB.
BMKG mencatat bahwa bibit tersebut memicu gelombang tinggi di beberapa perairan seperti Selat Malaka bagian tengah, perairan timur Sumatera Utara, dan Samudera Hindia barat Aceh hingga Nias. Gelombang moderat pun muncul di wilayah Dumai, Bengkalis, dan Rokan Hilir.
Tekanan minimum 998 hPa dan kecepatan angin hingga 80 km/jam menunjukkan bahwa intensitas Siklon Tropis Senyar cukup kuat untuk menimbulkan gangguan cuaca besar di wilayah sekitarnya.
Mengapa Siklon Tropis Senyar Dapat Terbentuk?
Kajian dalam Environmental Science Journal (ESJo) menyebutkan bahwa siklon tropis biasanya memiliki radius sekitar 150-200 km dan terbentuk di atas lautan bersuhu hangat, minimal 26,5 derajat Celsius. Suhu permukaan laut yang hangat menyediakan energi besar bagi pembentukan badai.
Pada awal kemunculannya, Siklon Tropis Senyar bergerak ke barat dengan kecepatan 10 km/jam mendekati Aceh, namun kemudian berbelok menuju timur kembali ke Selat Malaka, dan diperkirakan melintas ke Malaysia.
Fenomena ini tergolong jarang karena Indonesia berada dekat khatulistiwa, tempat gaya Coriolis sangat lemah untuk memicu pembentukan siklon.
Namun, anomali iklim dan dinamika atmosfer regional memungkinkan bibit siklon tumbuh meskipun berada di kondisi yang kurang ideal. Posisi awal Senyar pada 5.0° LU berada tepat pada batas minimal pembentukan siklon, sehingga rotasi masih dapat terbentuk.
Selat Malaka yang memiliki suhu permukaan laut hangat, kelembapan tinggi, dan angin stabil menjadi faktor utama penguatan Bibit Siklon 95B menjadi Siklon Tropis Senyar.
Dampak Luas di Tiga Negara
1. Indonesia
Siklon Tropis Senyar memicu hujan sangat lebat hingga ekstrem di Aceh dan Sumatera Utara, serta hujan sedang hingga lebat di Sumatera Barat dan Riau.
Banjir dan tanah longsor melanda 11 kabupaten di Sumatera Utara termasuk Kota Sibolga dan Tapanuli Selatan.
BMKG juga mencatat potensi angin kencang dan gelombang laut setinggi 1.25-4.0 meter di berbagai wilayah seperti Selat Malaka bagian tengah hingga Samudra Hindia barat Aceh.
2. Malaysia
Di Malaysia, Siklon Tropis Senyar menyebabkan banjir besar di Semenanjung Malaysia. Lebih dari 21.000 warga di 10 negara bagian harus dievakuasi, dan setidaknya satu korban jiwa tercatat.
3. Thailand
Thailand Selatan mengalami banjir bandang yang menewaskan sedikitnya 46 orang dan berdampak pada 3,2 juta penduduk. Hat Yai menjadi wilayah terdampak paling parah dengan air setinggi hingga 2 meter.
Daerah yang Terancam Dampak Siklon Tropis Senyar
Meski bergerak menjauhi Indonesia, BMKG tetap mencatat potensi cuaca ekstrem di Aceh dan Sumatera Utara. Di Sumatera Barat, hujan lebat hingga sangat lebat masih mungkin terjadi, sementara Riau berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat.
Gelombang tinggi hingga 4 meter juga berpotensi muncul di Selat Malaka bagian utara, perairan Aceh, hingga Samudera Hindia sebelah barat.
Pada saat yang sama, BMKG juga memperingatkan cuaca ekstrem akibat Siklon Tropis Koto yang tumbuh di Laut Filipina dan kini berada di Laut Cina Selatan. Dampaknya berupa hujan lebat di Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, serta gelombang tinggi di Laut Natuna Utara.
Saat Siklon Tropis Senyar memasuki wilayah Sumatera pada 26 November 2025, hujan ekstrem terjadi lebih luas dibanding hari sebelumnya. Badai ini melakukan landfall di Langsa, dekat perbatasan Aceh dan Sumatera Utara.
Data curah hujan 24 jam dari BMKG menunjukkan enam stasiun di Sumatera bagian utara mencatat curah hujan ekstrem di atas 150 mm, dengan intensitas tertinggi mencapai 302,2 mm di Stasiun Meteorologi Malikussaleh, Aceh Utara.
Wilayah lain seperti Banda Aceh, Medan, Padang Pariaman, dan Medan juga mencatat curah hujan sangat lebat. Sementara itu, Kota Padang dan Kualanamu mengalami hujan lebat dengan curah hujan mendekati 100 mm.
Siklon Tropis Senyar merupakan fenomena cuaca langka yang memberikan dampak besar bagi wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan negara tetangga. Fenomena ini menunjukkan bahwa dinamika atmosfer dapat berubah sewaktu-waktu, sehingga kewaspadaan menjadi sangat penting.












