Surat Negara, Janji Wakil Rakyat dan Jalan Berlumpur Muara Telang: Imam Mustakim PKS Dinilai Gagal Jalankan Amanah

Banyuasin AliansiNews.id
Kesabaran rakyat Kecamatan Muara Telang berada di titik nadir. Jalan berlumpur, jembatan tak kunjung dibangun dan anak-anak sekolah setiap hari menjadi korban dari janji-janji kosong para pejabat dan wakil rakyat.
Nama Imam Mustakim, anggota DPRD Provinsi Sumatera Selatan dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), kini disorot tajam masyarakat. Pasalnya, menurut keterangan warga dan perangkat desa, jalan dan jembatan di Muara Telang telah diukur oleh pihak PU, dan dijanjikan akan mulai dibangun pada September. Namun hingga kini, tak satu pun realisasi terlihat di lapangan.
Pertanyaannya sederhana namun menghantam: Di mana janji itu sekarang?
Apakah janji tersebut hanya alat mendulang suara?
Surat Resmi Negara Ada, Tapi Rakyat Tetap Jalan di Lumpur
Fakta yang tak terbantahkan, surat resmi Bupati Banyuasin kepada Gubernur Sumatera Selatan terkait Bantuan Keuangan Bersifat Khusus (BKBK) APBD Provinsi Sumsel Tahun Anggaran 2025 telah beredar.
Surat tersebut secara rinci mencantumkan program peningkatan jalan, normalisasi sungai, dan pembangunan jembatan di Kecamatan Muara Telang dengan anggaran miliaran rupiah.

Namun realitasnya:
Jalan tetap lumpur
Jembatan tetap nihil
Anak sekolah tetap pulang-pergi dengan pakaian penuh tanah
Muncul kecurigaan publik yang tak bisa dihindari:
Apakah dana hanya hidup di atas kertas dan mati di lapangan?
Anak Sekolah Terhina, Wakil Rakyat Diam
Setiap pagi, anak-anak Muara Telang berangkat sekolah dengan seragam bersih.
Namun sebelum sampai ke kelas, lumpur sudah lebih dulu menyambut mereka.
Ini bukan cerita sehari dua hari, tapi realita bertahun-tahun.
Ironisnya, para pejabat dan wakil rakyat,Duduk di ruang ber-AC
Datang dengan mobil mewah
Meresmikan dan menguji coba fasilitas di tempat yang jalannya sudah bagus
Sementara Muara Telang?
Tidak pernah diuji
Tidak pernah diprioritaskan
Seolah tak masuk peta pembangunan
Warga menyindir keras:
Coba sekali-sekali mobil mewah itu diuji lewat jalan berlumpur Muara Telang, bukan di pelabuhan yang sudah rapi.
Banyuasin Disebut Lumbung Pangan, Tapi Akses Jalan Seperti Sawah
Muara Telang adalah wilayah pertanian. Banyuasin kerap disebut lumbung pangan.
Namun rakyat bertanya dengan nada getir:
Bagaimana mau jadi lumbung pangan, kalau akses jalan lebih pantas ditanami padi daripada dilewati kendaraan?
Rakyat menegaskan, mereka tidak menuntut cor beton mahal.
Mereka hanya meminta:
Jalan bisa dilewati
Penerangan
Jembatan fungsional
Itu saja. Tidak lebih.
Bantuan Diduga Salah Sasaran, Rakyat Dipinggirkan
Warga juga mempertanyakan berbagai bantuan seperti:
Jonder
Komben
Alsintan lainnya
Yang diduga lebih banyak dinikmati perorangan, bukan kebutuhan bersama.
Rakyat meminta audit lapangan, bukan seremoni.
Pertanyaan Telanjang untuk Para Pejabat
Rakyat Muara Telang secara terbuka mempertanyakan:
Gubernur Sumatera Selatan
DPRD Provinsi Sumatera Selatan
DPRD Kabupaten Banyuasin
Dinas PU Provinsi & Kabupaten
Bappeda terkait
Dan khususnya Imam Mustakim (PKS)
Apakah kalian pernah turun dan merasakan lumpur Muara Telang?Apakah surat negara hanya formalitas tanpa tanggung jawab?Masih pantaskah menyebut diri wakil rakyat jika rakyat terus menderita?
Peringatan Moral dari Muara Telang
Rakyat tidak minta belas kasihan.
Rakyat tidak minta kemewahan.
Rakyat hanya minta hak dasar: akses jalan.
Jika akses jalan terus diabaikan, maka:
Jangan salahkan rakyat jika kehilangan kepercayaan
Jangan heran jika janji politik tak lagi dipercaya
Jangan bicara kesejahteraan jika lumpur masih jadi sarapan anak sekolah
Muara Telang tidak butuh janji.
Muara Telang butuh bukti(Topan M )











