Tragedi main hakim sendiri di Tabanan Bali: Murahnya nyawa di depan hukum jalanan

Tindakan main hakim sendiri tidak pernah menyelesaikan masalah dan hanya memindahkan kesalahan dengan melahirkan korban baru yang tak bersalah.
Jeritan parau seorang anak perempuan berusia tujuh tahun memecah saat jenasah bapaknya hadir di kediaman. Di antara deretan pelayat yang tertunduk bisu, tubuh mungilnya gemetar hebat.
Dua pasang tangan dewasa berusaha keras menopangnya agar tak runtuh ke tanah, saat kedua tangan kecilnya menggapai keranda yang membawa sang ayah menuju peristirahatan terakhir.
"Bapak... Bapak balik, Pak..." teriaknya histeris dengan hentakan kaki yang putus asa.
Panggilan itu berulang kali melayang ke udara, namun tak ada lagi jawaban dari sosok pendamping hidupnya.
Bocah yang baru duduk di kelas 1 sekolah dasar itu adalah putri bungsu dari KD. Di usianya yang masih amat belia, ia harus menelan kenyataan pahit: sang ayah tewas mengenaskan setelah menjadi korban pengeroyokan massa di Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali, pada Jumat, 24 Juli 2026 dini hari.
Malam nahas itu bermula ketika KD diduga tertangkap tangan hendak mengambil seekor ayam aduan milik warga sekitar pukul 01.30 WITA.
Amarah kolektif warga meluap tanpa kendali. Amuk massa tak hanya merenggut nyawa KD, tetapi juga membakar sepeda motor yang dikendarainya hingga hangus tak berbentuk.
Perbekel Desa Sidetapa, I Made Sutama, tak mampu menyembunyikan rasa duka sekaligus keprihatinannya saat melayat. KD meninggalkan tiga anak: si sulung yang telah berkeluarga, anak kedua yang masih berseragam SMA, dan si bungsu yang kini kehilangan pilar kasih sayangnya.
"Kesalahan orang pasti ada, tetapi janganlah gara-gara hanya mencuri ayam sampai menghilangkan nyawa orang," ujar Sutama lirih.
Ia menegaskan, dugaan tindak pidana seharusnya diproses melalui koridor hukum yang sah, bukan diselesaikan dengan kebrutalan jalanan.
Rekaman video yang memperlihatkan derita si kecil dengan cepat menjalar di media sosial, memantik simpati publik di seluruh negeri.
Gelombang empati terus berdatangan, termasuk dari figur publik seperti Luna Maya dan Deddy Corbuzier yang menyampaikan duka mendalam di kolom komentar Instagram, dengan menyatakan keinginan mereka untuk menemui anak tersebut secara langsung.
Kini, ketika riuh aksi main hakim sendiri itu telah usai dan amarah warga padam, yang tersisa hanyalah luka menganga bagi keluarga yang ditinggalkan.
Tragedi ini menjadi tamparan keras bagi nurani publik tentang betapa murahnya harga sebuah nyawa ketika rasa kemanusiaan kalah oleh amuk massa












