Gejolak Timur Tengah Bisa Naikkan Harga Minyak, Maung dan Rajawali Tekankan Pentingnya Energi Alternatif

Bogor - Aliansinews id. Meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah, khususnya gejolak antara Iran dan Israel yang berpotensi melibatkan Arab Saudi, memicu kekhawatiran serius bagi stabilitas energi global. Konflik yang berkembang pesat ini tidak hanya menjadi isu regional, tetapi berdampak langsung bagi Indonesia yang berstatus sebagai pengimpor bersih minyak bumi.
Mencermati perkembangan situasi tersebut, Ketua Umum sekaligus Pendiri MAUNG dan RAJAWALI, Hadysa Prana, menyampaikan analisis mendalam mengenai kemungkinan dampak berantai yang akan diterima Indonesia, serta menyerukan kesiapan bersama antara pemerintah dan masyarakat.
"Kita tidak bisa menutup mata. Indonesia sangat rentan terhadap guncangan harga dan pasokan energi global. Ketika kawasan produsen utama dunia sedang dilanda konflik terbuka, maka dampaknya akan terasa sampai ke pom bensin, ke kantong rakyat, dan ke perekonomian nasional. Kewaspadaan harus dimulai dari sekarang, bukan menunggu harga sudah melonjak," ujar Hadysa Prana pada Rabu, 16 September 2026.
EMPAT RISIKO UTAMA BAGI INDONESIA
Hadysa Prana memaparkan empat jalur dampak yang paling mendesak untuk diantisipasi:
1. Lonjakan Harga Minyak Mentah Global
Arab Saudi merupakan salah satu produsen dan pengekspor minyak terbesar dunia, sekaligus salah satu sumber impor utama bagi kilang di Indonesia. Jika fasilitas energi dan jalur distribusi di kawasan tersebut terganggu — seperti serangan terhadap jalur pipa strategis maupun jalur pelayaran — harga minyak mentah dunia dapat melonjak tajam, diprediksi mencapai USD 120–150 per barel.
2. Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi
Kenaikan harga minyak dunia akan langsung mendorong kenaikan harga BBM non-subsidi di dalam negeri, seperti Pertamax Series dan Dex Series. Penyesuaian ini merupakan dampak langsung dari mekanisme pasar yang tidak dapat dihindari.
3. Beban Subsidi Membengkak dan Risiko Penyesuaian
Kenaikan harga minyak dunia memperlebar selisih harga antara harga pasar dan harga eceran bersubsidi. Akibatnya beban subsidi BBM di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara akan membengkak secara signifikan. Jika konflik berlangsung lama dan APBN tidak lagi kuat menahan beban tersebut, pemerintah kemungkinan besar terpaksa mengurangi besaran subsidi, yang berujung pada kenaikan harga BBM bersubsidi.
4. Kerentanan Pasokan Akibat Jalur Logistik Terputus Sekitar 20–25% kebutuhan impor minyak mentah Indonesia melewati Selat Hormuz atau berasal dari kawasan Teluk. Konflik skala besar dapat menghambat bahkan memutus aliran kapal tanker. Sementara itu, cadangan stok BBM nasional terbatas, hanya cukup untuk sekitar 21–30 hari. Jika gangguan berlangsung lama, risiko kelangkaan fisik di lapangan sangat nyata.
LANGKAH ANTISIPASI DAN SERUAN BERSAMA
Hady juga mencatat bahwa pemerintah dan PT Pertamina telah mengambil sejumlah langkah mitigasi, antara lain:
- Pengalihan sumber impor minyak mentah dan LPG dari kawasan Timur Tengah ke negara alternatif seperti Amerika Serikat, Angola, Brasil, dan Venezuela;
- Penguatan pasokan bensin jadi dari kawasan Asia Tenggara yang relatif lebih aman dari gangguan konflik di Timur Tengah.
Namun langkah pemerintah saja belum cukup. Ia menegaskan perlunya kesiapan menyeluruh dari seluruh elemen bangsa, termasuk langkah strategis jangka panjang yang tidak boleh tertunda lagi:
"Pengalihan sumber impor hanyalah solusi sementara. Kita tidak boleh terus-menerus bergantung pada minyak bumi dari luar negeri. Pemerintah harus segera mempercepat pengembangan dan pemanfaatan energi alternatif sebagai pengganti BBM yang nyata dan terjangkau bagi masyarakat.
Pengembangan kendaraan listrik, biodiesel, bioetanol, gas alam, dan energi terbarukan lainnya harus menjadi prioritas nasional yang diwujudkan dalam kebijakan nyata, bukan sekadar wacana.
Infrastruktur pendukungnya harus dibangun merata, dan harganya harus terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Semakin cepat kita beralih ke energi mandiri dan terbarukan, semakin kecil Indonesia terguncang oleh gejolak perang di belahan dunia lain," tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengajak masyarakat untuk ikut berperan aktif:
"Kepada seluruh masyarakat: mulailah berhemat energi, kurangi penggunaan kendaraan yang tidak perlu, gunakan transportasi umum, dan dukung pengembangan energi bersih di lingkungan kita.
Kemandirian energi adalah kunci kedaulatan bangsa. Semakin sedikit kita mengimpor minyak, semakin kuat kita berdiri di tengah gejolak dunia," pungkas orang nomor satu di DPN MAUNG & RAJAWALI.
(Team)












