Derita korban keracunan MBG di Berastagi Karo: gangguan ginjal, jantung dan racun jamur di saraf

Penderitaan sejumlah siswa yang menjadi korban dugaan keracunan program makan bergizi gratis (MBG) di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, belum berakhir. Beberapa korban disebut mengalami gangguan ginjal dan jantung.
Sejumlah siswa yang sebelumnya menjalani perawatan di rumah sakit dan diperbolehkan pulang kini kembali mengalami gangguan kesehatan.
Bahkan, sebagian korban disebut mengalami kondisi yang membutuhkan pemeriksaan serta pemantauan medis lanjutan.
Keluarga korban mengaku cemas setelah sejumlah pemeriksaan medis menunjukkan adanya gangguan kesehatan pada anak mereka.
Berdasarkan keterangan keluarga, ada korban yang mengalami gangguan ginjal dan jantung. Salah satu keluarga juga menyebut adanya temuan yang menurut mereka berkaitan dengan paparan racun jamur pada bagian saraf kepala.
Racun jamur di saraf kepala
Salah satu korban yang kembali menjalani pemeriksaan adalah Feby br Purba. Siswi tersebut kini harus menjalani kontrol di RSUP H Adam Malik Medan setelah sebelumnya mendapatkan perawatan akibat dugaan keracunan MBG.
Ayah Feby, Bang Purba, mengatakan berdasarkan hasil pemeriksaan dokter di RSUP H Adam Malik, terdapat temuan yang disebut berkaitan dengan racun jamur pada bagian saraf kepala putrinya.
“Menurut pemeriksaan dokter di Adam Malik, hasilnya ada racun jamur pada saraf kepala anak saya,” ujar Bang Purba, ayah Feby, Sabtu (5/9/2026) sore.
Temuan tersebut membuat keluarga Feby syok. Terlebih, dokter disebut menyarankan agar kondisi kesehatan Feby terus dipantau dalam jangka waktu cukup panjang. Bang Purba mengatakan putrinya harus menjalani kontrol secara berkala.
“Ada empat dokter yang memeriksa. Saya tak hafal namanya. Kata dokter anak saya harus kontrol sampai 6 bulan hingga 1 tahun,” katanya.
Kondisi tersebut membuat keluarga semakin khawatir terhadap pemulihan Feby, termasuk kebutuhan pemeriksaan dan pengobatan lanjutan.
“Bagaimana lagi lah nasib kami ini?” lirih Bang Purba.
Gangguan ginjal
Kondisi serupa dialami korban lainnya, Agnesia P br Silitonga. Setelah sempat menjalani perawatan, kondisi kesehatan Agnesia kembali memburuk beberapa hari lalu.
Ia kemudian dilarikan kembali ke RS Efarina Berastagi untuk menjalani pemeriksaan dan mendapatkan penanganan medis.
Ibu Agnesia, Fitriani br Sijabat, mengatakan hasil pemeriksaan dokter menunjukkan adanya gangguan pada ginjal putrinya.
“Kata dokter, anak saya mengalami gangguan ginjal, hingga disarankan melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke rumah sakit di Medan,” ujar Fitriani.
Kondisi tersebut membuat Fitriani semakin khawatir. Selain memikirkan kesehatan anaknya, dia mengaku terbebani persoalan biaya pengobatan.
Menurut Fitriani, biaya perawatan lanjutan yang harus dijalani Agnesia kini tidak lagi sepenuhnya ditanggung seperti ketika korban mendapatkan perawatan setelah kejadian dugaan keracunan MBG.
Situasi tersebut membuat keluarga korban berada dalam kondisi sulit. Anak-anak mereka membutuhkan pemeriksaan dan perawatan lanjutan, sementara kemampuan ekonomi keluarga menjadi persoalan tersendiri.
Gangguan jantung
Korban lainnya, Karissa Zefania br Aritonang, juga masih menjalani pemeriksaan medis karena kondisi kesehatannya belum pulih.
Karissa diketahui mengalami gangguan jantung. Berdasarkan keterangan keluarga, gangguan tersebut memang telah dialami Karissa sebelumnya.
Namun, keluarga menyebut kondisi jantung Karissa memburuk setelah mengalami dugaan keracunan MBG.
“Menurut pemeriksaan dokter, sakit jantung anak kita ini memang sudah ada sebelumnya. Keracunan MBG itu membuat sakit jantungnya kambuh dan makin parah. Makanya saat kena racun MBG kemarin, anak kita langsung sesak terus,” ujar orang tua Karissa.
Karissa kemudian diperiksa dokter jantung di RS Amanda dan menjalani perawatan selama 3 hari.
Mengingat kondisinya belum membaik, keluarga meminta rujukan untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut di RSUP H Adam Malik Medan.












