Diungkap temuan baru kasus tewasnya dosen cantik Untag Semarang

Kematian Dwinanda Linchia Levi memasuki babak baru. Keluarganya mengungkap temuan baru berupa foto kondisi jenazah yang sempat dikirimkan dan kemudian dihapus oleh AKBP Basuki, orang yang menemukan almarhumah di kamar indekos-hotel (kostel) di Gajahmungkur, Semarang.
Temuan itu memperkuat kecurigaan keluarga ada temuan yang belum terungkap dari kasus dosen Untag berusia 35 tahun tersebut.
Kakak kandung korban Vian Dhana menerima telepon pada pukul 18.00 WIB dari pihak kampus. Untag menghubungi Vian karena tidak memiliki kontak keluarga Levi.
“Saya di Jakarta. Mereka bilang sedang mencari nomor keluarga,” ujar Vian seperti ditulis Sabtu (22/11/2025).
Jarak waktu yang panjang antara ditemukannya jenazah dan pemberitahuan kepada keluarga menjadi salah satu hal yang dianggap janggal.
Levi ditemukan oleh Basuki, seorang perwira menengah polisi berpangkat AKBP yang tinggal bersama Levi tanpa perkawinan resmi.
Basuki merupakan anggota Polda Jawa Tengah.
Vian terakhir berbicara dengan adiknya pada Jumat (14/11/2025). Dalam percakapan itu, Levi tak menyinggung persoalan pribadi.
“Adik saya orangnya tertutup. Kalau ada masalah biasanya tidak cerita,” kata Vian.
Ia bahkan mengaku tak mengetahui hubungan adiknya dengan Basuki.
Keluarga satu per satu merasakan gelagat tak wajar setelah menerima kabar kematian. Keputusan untuk mengajukan autopsi diambil dalam waktu singkat.
“Kami ingin tahu lebih detail. Ada yang janggal,” ujar Vian.
Ia menegaskan Dwinanda tidak pernah bercerita mengidap penyakit serius.
Untuk mengawal kasus ini, keluarga menunjuk kuasa hukum, Zainal Abidin Petir. Zainal menyebut, setelah menemukan jenazah Levi, AKBP Basuki sempat mengirim foto kondisi korban kepada kerabat keluarga di Purwokerto. Foto itu memperlihatkan bercak darah di paha dan perut.
“Menurut pengakuan Bu Tiwi, budhe almarhumah, darahnya terlihat masih segar,” kata Zainal.
Namun foto-foto itu tidak sempat disimpan. Basuki, kata Zainal, menghapusnya kembali.
“Ditarik lagi sebelum disimpan. Itu menambah kecurigaan keluarga,” ujarnya.
Keluarga memilih menyerahkan penilaian kepada proses investigasi, tetapi Zainal menegaskan mereka meragukan kematian itu terjadi secara wajar.
Polda Jawa Tengah telah mengamankan sejumlah barang bukti, termasuk telepon genggam dan laptop milik almarhumah.
Zainal mendesak kepolisian untuk membuka perkembangan penyelidikan secara transparan.
“Kapolda harus bisa mengungkap. Bukti ada, HP dan laptop sudah di tangan penyidik. Jangan ditutup-tutupi,” katanya.
Kepala Bidang Humas Polda Jateng Kombes Pol Artanto mengatakan, tim advokasi dari Untag dan keluarga dapat membantu memperlancar penyelidikan.
Ia menjelaskan, dua proses tengah berjalan yakni dugaan pelanggaran kode etik oleh AKBP Basuki yang menunggu sidang etik, dan penanganan dugaan pidana yang kini ditangani Direktorat Reserse Kriminal Umum.
“Semua barang bukti dan saksi sedang dianalisis,” ujarnya.












