Siswi Gagal Tuntaskan OSN Akibat Listrik Padam, DPRD Sukabumi Minta Evaluasi Menyeluruh Sistem Ujian Berbasis Digital

aliansinews.id - Sukabumi, Peristiwa yang menimpa Nadya Putrinda Paramitha, siswi SD Negeri Gandasoli, Kecamatan Cireunghas, yang gagal menyelesaikan ujian Olimpiade Sains Nasional (OSN) akibat pemadaman listrik, mendapat perhatian serius dari DPRD Kabupaten Sukabumi.
Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Sukabumi, Ferry Supriadi, menilai insiden tersebut tidak boleh dipandang sebagai persoalan teknis semata. Menurutnya, kejadian yang dialami Nadya menjadi cerminan masih adanya kerentanan dalam penyelenggaraan ujian berbasis digital, terutama di daerah yang belum memiliki sistem pendukung kelistrikan yang memadai.
"Anak-anak yang telah berjuang mempersiapkan diri untuk mengikuti kompetisi akademik tidak boleh dirugikan oleh faktor di luar kemampuan mereka. Prestasi dan kesempatan mereka harus tetap terlindungi," ujar Ferry.
Peristiwa itu menjadi perhatian publik setelah video Nadya menangis histeris beredar luas di media sosial. Siswi kelas V tersebut tidak dapat melanjutkan sesi ketiga atau sesi terakhir mata pelajaran IPS yang berlangsung pukul 13.00 hingga 14.00 WIB karena listrik padam saat ujian masih berlangsung.
Ferry menegaskan bahwa kejadian tersebut harus menjadi bahan evaluasi bersama bagi seluruh pihak terkait, mulai dari penyelenggara OSN, satuan pendidikan, hingga instansi yang memiliki kewenangan dalam penyediaan infrastruktur pendukung.
Menurutnya, pelaksanaan ujian berbasis komputer harus dibarengi dengan mitigasi risiko yang matang. Sekolah maupun penyelenggara perlu memiliki skenario darurat untuk mengantisipasi gangguan teknis seperti pemadaman listrik, gangguan jaringan internet, maupun kerusakan perangkat.
"Ke depan harus ada standar operasional yang jelas ketika terjadi kondisi darurat. Jangan sampai peserta kehilangan kesempatan hanya karena persoalan teknis yang tidak mereka sebabkan," katanya.
Komisi IV DPRD Kabupaten Sukabumi juga mendorong agar dilakukan penelusuran dan koordinasi dengan pihak-pihak terkait guna mencari solusi yang berkeadilan bagi Nadya. Ferry menekankan bahwa semangat dan kemampuan akademik seorang peserta tidak dapat diukur hanya dari satu sesi ujian yang terhenti akibat keadaan kahar.
Lebih jauh, ia mengapresiasi perhatian masyarakat terhadap dunia pendidikan yang tercermin dari respons luas terhadap peristiwa tersebut. Menurutnya, kepedulian publik menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh kesempatan meraih prestasi.
"Jangan sampai kejadian ini mematahkan semangat Nadya maupun anak-anak lainnya untuk terus berprestasi. Justru ini harus menjadi momentum memperbaiki sistem agar lebih siap, lebih adil, dan lebih berpihak kepada peserta didik," tegasnya.
Komisi IV DPRD Kabupaten Sukabumi berkomitmen mengawal persoalan tersebut dan mendorong lahirnya langkah-langkah perbaikan agar kejadian serupa tidak kembali terulang pada pelaksanaan kegiatan akademik maupun kompetisi pendidikan di masa mendatang. Dengan demikian, setiap siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dan kompetisi secara optimal tanpa terhambat kendala teknis yang berada di luar kendali mereka.












