Menyongsong Rakornas Gabungan, Hadysa Prana Ingatkan: Apa yang Kita Nikmati Sekarang Buah dari Lalu, Apa yang Kita Kerja Hari Ini Bekal Esok Hari

Bogor - Aliansinews id. Di tengah perjalanan panjang membangun dan membesarkan dua organisasi besar yang saling melengkapi, yakni Monitor Aparatur Untuk Negara dan Golongan (MAUNG) serta Rangkulan Jajaran Wartawan dan Lembaga Indonesia (RAJAWALI), semangat dan nilai-nilai luhur budaya bangsa, khususnya warisan kearifan lokal Tatar Sunda, senantiasa dijadikan sebagai pondasi kokoh.
Hal ini ditegaskan langsung oleh Hadysa Prana, selaku Ketua Umum sekaligus Pendiri kedua organisasi tersebut, saat menyampaikan arahan pemikiran mendalam kepada seluruh jajaran pengurus dan anggota di seluruh Indonesia dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Gabungan Nasional yang akan segera digelar.
Dalam pemaparannya yang penuh makna, Hadysa Prana mengutip dan menafsirkan kembali ungkapan bijak para leluhur tanah Pasundan yang sangat relevan dengan semangat perjuangan organisasi saat ini, yaitu:
“Dinu kiwari ngancik nu bihari, seja ayeuna sampeureun jaga”
Artinya: Apa yang kita nikmati atau jalani saat ini adalah hasil dari masa lalu, dan apa yang kita lakukan hari ini adalah untuk bekal di masa depan.
Menurut Hady, kalimat pendek namun sarat makna ini bukan sekadar nasihat hidup biasa, melainkan panduan utama bagi setiap langkah pengabdian yang dilakukan oleh para pengurus dan anggota MAUNG maupun RAJAWALI.
“Segala pencapaian, kemajuan, dan ketertiban yang kita rasakan hari ini tidak jatuh begitu saja dari langit. Itu adalah buah dari perjuangan, ketekunan, dan pengorbanan yang telah ditanamkan oleh generasi-generasi sebelumnya.
Sebaliknya, apa yang kita tanam, kita lakukan, dan kita perjuangkan hari ini, baik itu kebaikan, kejujuran, maupun perbaikan, itulah yang akan dinikmati dan menjadi bekal bagi anak cucu kita di masa yang akan datang,” jelas Ketum.
Ia mengingatkan, falsafah ini mengajarkan kita untuk selalu bersyukur atas warisan baik yang ada, namun sekaligus menanamkan rasa tanggung jawab yang besar untuk tidak merusak apa yang sudah ada, melainkan menyempurnakannya demi masa depan yang lebih baik. Nilai inilah yang kemudian dijiwai dan dituangkan ke dalam filosofi dasar kedua organisasi yang ia pimpin.
Filosofi MAUNG dan RAJAWALI Menyongsong Giat Rakornas Gabungan
Lebih jauh, Hady memaparkan makna mendalam di balik nama dan simbol yang diusung, yang menjadi jiwa dan semangat dalam menyongsong agenda besar pertemuan nasional tersebut:
1. Filosofi MAUNG (Harimau)
Simbol MAUNG bukan hanya sekadar nama atau lambang kekuatan semata, melainkan cerminan karakter yang mulia dan tegas.
Berani dan Tegas: Seperti harimau yang berani melindungi wilayah dan kawanannya, MAUNG hadir untuk berani menyuarakan kebenaran, mengawal kebijakan negara, dan menindak ketidakadilan tanpa rasa takut, namun tetap di jalan yang benar.
Kuat dan Tangguh: Memiliki ketahanan mental dan fisik yang kokoh dalam menghadapi segala tantangan dan hambatan dalam melakukan pengawasan dan pengabdian kepada negara.
Pelindung dan Penjaga: Menjadi benteng yang melindungi hak rakyat serta menjaga agar penyelenggaraan negara tetap berjalan pada koridor aturan dan hukum yang berlaku.
Bijaksana: Kekuatan tidak digunakan untuk menindas yang lemah, melainkan untuk menegakkan keseimbangan dan keadilan.
2. Filosofi RAJAWALI (Elang)
Sementara itu, nama RAJAWALI dipilih karena melambangkan pandangan yang luas, tajam, dan jauh ke depan, sangat cocok dengan tugas wartawan dan lembaga yang bergerak di bidang informasi dan pencerahan.
Pandangan Jauh dan Tajam: Mampu melihat dan mengamati peristiwa dari sudut pandang yang luas, mampu menelusuri fakta yang tersembunyi, serta memahami dampak jangka panjang dari suatu peristiwa atau kebijakan.
Terbang Tinggi dan Bebas: Berani terbang melampaui rintangan, bebas dari kepentingan golongan tertentu, dan memiliki kemandirian dalam berpikir serta menyampaikan kebenaran.
Cerdas dan Cermat: Selalu bertindak berdasarkan fakta yang nyata, teliti dalam menyampaikan informasi, serta mampu mengarahkan pandangan masyarakat menuju ke arah yang terang dan benar.
“Dengan demikian, MAUNG dan RAJAWALI saling melengkapi. MAUNG adalah kekuatan pengawasan dan pembela kebenaran, sedangkan RAJAWALI adalah ketajaman pandangan dan penyampai kebenaran.
Keduanya bersatu dalam satu tujuan mulia: membangun tata kehidupan yang lebih baik, bersih, dan sejahtera,” tegas Ketum.
Menjelang pelaksanaan Rakornas Gabungan Nasional, Hady berharap seluruh peserta yang hadir dapat benar-benar meresapi semangat ini.
“Mari kita jadikan momen pertemuan besar ini sebagai masa kini yang kita lalui dengan penuh kesadaran. Kita bawa pengalaman baik masa lalu, kita perbaiki kekurangan yang ada, dan kita susun langkah kerja yang matang.
Agar apa yang kita hasilkan dalam pertemuan ini kelak menjadi amal jariyah dan bekal emas bagi kemajuan organisasi dan kesejahteraan bangsa Indonesia di masa depan,” pungkasnya dengan penuh harapan.








