Kepuasan publik terhadap Prabowo terjun bebas ke 49,5%, hasil survei Indikator Politik bocor

Lembaga survei Indikator Politik Indonesia mengeluarkan surat pemberitahuan resmi yang membantah telah mempublikasikan hasil survei nasional periode Juli 2026, bantahan yang kemudian dinilai tidak membantah hasil survei
Surat bertanggal 28 Juli 2026 itu terbit di tengah beredarnya dokumen dan pemberitaan yang menyebut tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto anjlok tajam ke angka 49,5 persen, dan menjadi bukti bahwa ketidakpuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo kini benar-benar mencapai titik kritis.
Dalam surat berkop resmi Indikator Politik Indonesia yang beredar, disebutkan dua poin utama.
Poin pertama, sehubungan dengan pertanyaan beberapa pihak tentang informasi hasil survei nasional Indikator Politik Indonesia Juli 2026, pihak Indikator menyatakan bahwa mereka tidak pernah merilis atau mempublikasikan hasil survei nasional yang dilakukan pada Juli 2026 tersebut.
Poin kedua menyebutkan bahwa data dan temuan survei Indikator secara resmi selalu dipublikasikan melalui web/portal resmi www.indikator.co.id dan jaringan media sosial Indikator Politik Indonesia. Surat tersebut ditandatangani oleh Direktur Indikator, Fauny Hidayat.
Bantahan yang tidak membantah
Surat ini kemudian mendapat sorotan tajam dari analis kebijakan Ferry Koto. Melalui akun X (dahulu Twitter) miliknya @ferrykoto, Ferry Koto secara langsung menandai akun resmi Indikator dan Founder Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Prof. Burhanuddin Muhtadi, dengan mempertanyakan substansi bantahan tersebut.
“Jika surat pemberitahuan ini benar, apakah bisa diartikan bahwa survei Juli itu ada, tapi tidak dirilis/dipublikasikan?” tanya Ferry Koto sambil menandai poin pertama surat bantahan yang hanya menyatakan Indikator tidak pernah merilis atau mempublikasikan hasil survei, bukan membantah telah melakukan survei Juli 2026.
“Karena tidak ada bantahan terhadap hasil survei (yg tidak dipublish) tsb, berarti benar kan hasilnya??” imbuh Ferry.
Poin krusial dari cuitan Ferry Koto adalah bahwa kedua poin dalam surat resmi Indikator sama sekali tidak membantah bahwa survei periode Juli 2026 memang dilakukan, dan tidak membantah hasil dari survei tersebut. Surat itu hanya membantah soal “publikasi resmi”, bukan soal keberadaan survei maupun keakuratan datanya.
Ferry kemudian mempertanyakan jika survei itu memang dilakukan, kenapa hasil surveinya tidak dipublikasikan.
“Jika jawaban dari kedua pertanyaan itu “Benar”, maka pertanyaannya kenapa tidak dipublish? Apakah ada yang melarang mempublish? atau itu survei untuk kepentingan klien?” tukasnya.
Tren kepuasan publik ke Prabowo: Dua lembaga, satu arah turun
Kontroversi ini bermula dari pemberitaan media investortrust.id pada 28 Juli 2026 yang mengutip hasil survei Indikator Politik Indonesia dengan angka kepuasan terhadap Prabowo sebesar 49,5 persen, artikel itu belakangan tidak lagi dapat diakses di situs investortrust.id.

Terpisah dari itu, beredar pula dokumen laporan survei nasional setebal 241 halaman berjudul “Kondisi Ekonomi, Sosial, Politik, dan Pemerintahan” periode 14–24 Juli 2026, yang secara format, tata letak, dan kop menyerupai laporan resmi Indikator, dengan metodologi sampel 4.250 responden dan margin of error 1,6 persen.












