Siswa SMP korban bullying di Tangsel meninggal di RS

Siswa SMP korban bullying di Tangsel meninggal di RS
Foto: SMPN 19 Ciater, Serpong.
PPA & TPPO
Minggu, 16 Nov 2025  09:55

Korban perundungan atau bullying yang terjadi di SMPN 19 Ciater, Serpong, Tangerang Selatan akhirnya meninggal dunia setelah sepekan dirawat di RS Fatmawati, Jakarta Selatan.

Informasi meninggalnya korban bullying dibenarkan oleh kuasa hukumnya, Alvian.

"Korban meninggal pada pukul 06.00 WIB. Keluarga yang ada di rumah mendapat kabar dari paman korban yang di rumah sakit," ujar Alvian saat dihubungi lewat telepon pada Minggu (16/11/2025).

Setelah mendapat kabar tersebut pihak keluarga langsung ke Rumah Sakit Fatmawati untuk menjemput jenazah korban.

"Ini keluarga lagi di jalan menuju rumah sakit," tambah Alvian.

Keluarga meminta doa kepada seluruh masyarakat agar almarhum husnul khatimah, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran serta keikhlasan atas kepergian almarhum.

"Minta doanya untuk almarhum," tutup Alvian.

sebelumnya, Muhamad Hisyam (13) anak pasangan dari Novianti (36) Kusnadi (47) siswa kelas Tujuh SMPN 19 Ciater Serpong, warga kampung Maruga RT 11/RW09 Kelurahan Ciater Kecamatan Serpong Tangerang Banten menjadi korban perundungan atau bullying oleh teman kelasnya.

Kronologi kejadian

Hisyam dilarikan ke rumah sakit setelah peristiwa tragis 20 Oktober 2025. Di ruang kelasnya, saat jam istirahat hampir tiba, ia dipukul menggunakan bangku besi oleh teman sekelasnya. Pukulan itu mengenai kepala.

Menurut keluarga, itu bukan kali pertama. Sejak awal tahun ajaran, Hisyam disebut sering mengalami kekerasan hingga kerap pulang dengan tubuh lemas. Namun hari itu menjadi yang paling fatal.

Setelah pulang ke rumah, kondisi Hisyam memburuk cepat. Penglihatannya kabur, tubuhnya seperti lumpuh, dan sehari kemudian ia sudah tak memiliki tenaga untuk berdiri.

Keluarga baru diberi tahu sehari setelah kejadian, sebuah hal yang membuat mereka semakin terpukul. 

“Kami baru tahu tanggal 21 Oktober 2025. Sudah terlambat,” kata Rizki, sepupu korban.

Mediasi sempat dilakukan. Pihak terduga pelaku disebut bersedia menanggung biaya pengobatan, namun janji itu tak pernah terrealisasi.

Keluarga merasa ditinggalkan, baik oleh pihak pelaku maupun pihak sekolah yang kemudian menyarankan mereka mengadu ke dinas tanpa ada pendampingan berarti.

Tindakan polisi

Perkara ini sempat ditangani Polres Tangerang Selatan. Tiga kali penyidik datang ke sekolah, lima orang telah dimintai keterangan awal.

KPAI juga turun tangan, mendesak proses hukum berjalan karena dugaan kekerasan fisik terhadap anak tidak bisa dianggap kasus ringan. Namun penyelidikan itu kini memasuki babak baru korban telah tiada.

Pemerintah Kota Tangerang Selatan menyebut RS Fatmawati menemukan indikasi penyakit bawaan yang memperparah kondisi Hisyam, namun keluarga tetap yakin pukulan bangku besi dan rangkaian perundungan yang dialaminya adalah pemicu utama.

Kini, mereka menanti satu hal adalah keadilan.

TAG:
#bullying
#smpn 19 tangsel
#bawah umur
#kpai
#tangsel
Berita Terkait
Kasus Kekerasan Seksual Anak, Eks Kapolres Ngada Divonis 19 Tahun
Kasus Kekerasan Seksual Anak, Eks Kapolres Ngada Divonis 19 Tahun
Kasus Kekerasan Seksual Anak, Eks Kapolres Ngada Divonis 19 Tahun
Kasus Kekerasan Seksual Anak, Eks Kapolres Ngada Divonis 19 Tahun
Rekomendasi
1
2
3
4
5
6
7
Boros Rp1 T per bulan, BGN evaluasi insentif SPPG Rp6 Juta per hari
Sadis! Pelajar SMA di Luwu Timur bunuh gadis tetangga gegara cinta tak sampai
Viral TNI hadang massa demo mahasiswa, ini kata Kapuspen
Hendak terbang dengan jet pribadi, penyelundup narkoba buronan Interpol ditangkap di bandara Bali
Heboh CCTV di kawasan Bundaran HI mati saat demo mahasiswa, ini kata Pemprov DKI
Indeks Berita