Panglima Jilah: Ksatria Merah dari Borneo

Panglima Jilah: Ksatria Merah dari Borneo
 
KALTENG
Kamis, 04 Sep 2025  20:11

Di tanah rimba Kalimantan, ada satu nama yang selalu bergema ketika masyarakat adat Dayak berjuang mempertahankan hak leluhur mereka yaitu Panglima Jilah, sosok yang dikenal garang sekaligus disegani, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di kawasan Borneo yang meliputi Malaysia dan Brunei.

Lahir dengan nama Agustinus Jilah pada 19 Agustus 1980 di Desa Sambora, Mepawah Hulu, Kabupaten Landak, ia lahir di tahun Kera Mas yaitu sebuah pertanda kelincahan dan kecerdikan yang kelak tercermin dalam perjuangannya. Dalam bahasa Dayak, sebutan “Pengalangok” berarti panglima. Maka masyarakat menyapanya dengan penuh hormat sebagai Pengalangok Jilah.

Tubuhnya yang dihiasi tato khas Dayak adalah simbol keberanian, identitas, sekaligus tekad yang tak tergoyahkan. Walau berpostur sedang, api semangatnya mampu membakar semangat massa dalam setiap perjuangan.

Jejak Perlawanan dan Aksi Nyata

Perjuangan Panglima Jilah bukan sekadar cerita. Ia terjun langsung dalam berbagai konflik yang menimpa masyarakat adat.
• Pembebasan enam peladang di Sintang menjadi salah satu catatan penting yang menunjukkan kepemimpinannya.

• Ia juga berdiri di garis depan saat petani plasma menuntut haknya kepada sebuah perusahaan besar, PT. PI, di Ngabang, Landak. Orasinya kala itu menggelegar, memantik keberanian rakyat untuk bersuara.

Namanya semakin dikenal luas ketika ia ikut mengawal kasus Effendi Buhing, tokoh adat Kinipan, Kalimantan Tengah. Saat Buhing diundang dalam acara Mata Najwa dengan tema “Hukum Suka-Suka”, ia menyebut langsung nama Panglima Jilah sebagai sosok yang berjasa dalam perjuangannya.

Simbol Perlawanan Dayak

Kepedulian Panglima Jilah terhadap adat, tanah leluhur, dan budaya Dayak membuatnya menjadi simbol perlawanan masyarakat Borneo di era modern. Dari aksi massa, perlawanan hukum, hingga orasi-orasinya yang lantang, ia hadir sebagai suara yang menuntut keadilan.

Melalui Pasukan Merah (Tariu Borneo Bangkule Rajakng), Panglima Jilah tidak hanya menjaga warisan adat, tetapi juga memperlihatkan kepada dunia bahwa masyarakat Dayak tetap teguh berdiri mempertahankan identitasnya.

Di balik ketegasan dan kegaharannya, sosok ini sesungguhnya adalah lambang keberanian kolektif masyarakat adat yang tidak ingin kehilangan haknya di tanah warisan leluhur.

TAG:
#
Berita Terkait
Viral di Medsos, Truk Diduga Angkut Kayu Log Berlebih di Katingan, Dishut Kalteng Lakukan Pemantauan
Viral di Medsos, Truk Diduga Angkut Kayu Log Berlebih di Katingan, Dishut Kalteng Lakukan Pemantauan
Viral di Medsos, Truk Diduga Angkut Kayu Log Berlebih di Katingan, Dishut Kalteng Lakukan Pemantauan
Viral di Medsos, Truk Diduga Angkut Kayu Log Berlebih di Katingan, Dishut Kalteng Lakukan Pemantauan
Rekomendasi
1
2
3
4
5
6
7
Sorotan terhadap Proyek Rehabilitasi Kantor Camat Muara Belida
Logo Mitra Aliansi Terpajang Bertahun-tahun di Kantor PT SAIND, Status Kemitraan Dipertanyakan
Jalan Kecamatan Muara Telang Rusak Parah, Warga Soroti Ketimpangan Status Lumbung Pangan Nasional
Kejati Sumsel Bongkar Dugaan Korupsi Kredit BRI, Negara Terselamatkan Rp1,2 Triliun
Lapas Kayu Agung Tegaskan Komitmen Zero Halinar dan Zero Penipuan Lewat Apel Ikrar Serentak
Indeks Berita