Hilang Saat Bertugas Di Krakatau - Hadysa Prana: Keberanian Mereka Mengabarkan Kebenaran Adalah Warisan Yang Harus Kita Jaga

 
Kamis, 10 Sep 2026  21:51

Bogor - Aliansinews id. Berita hilangnya lima orang jurnalis yang sedang bertugas meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, sejak Senin, 7 September 2026, bagai petir di siang bolong menggugah hati segenap elemen bangsa. 

Kelima insan pers itu, M. Bagus Khoirunnas (ANTARA), Ari Basuki (Merdeka.com), Yudistiro Pranoto (iNews), Firman Daus (Anadolu Agency), dan Donal Husni (jurnalis lepas) — berangkat membawa semangat mengabarkan kebenaran kepada publik, namun hingga kini belum diketahui keberadaannya. Bersama mereka, tiga awak kapal juga turut hilang kontak, di tengah perairan Selat Sunda yang bergolak.

Menyikapi berita penuh duka dan keprihatinan ini, Hadysa Prana, selaku Ketua Umum sekaligus Pendiri LSM Monitor Aparatur Untuk Negara dan Golongan (MAUNG) serta Rangkulan Jajaran Wartawan dan Lembaga Indonesia (RAJAWALI), menyampaikan pernyataan mendalam yang menyentuh hati, sekaligus mengeluarkan instruksi tegas kepada seluruh jajaran pengurus dan anggota yang tersebar di seantero Nusantara.

Hadysa Prana: "Mereka Pergi Demi Kebenaran — Kini Tugas Kita Menjadi Penjaga Doa Dan Jejak Mereka"

"Kabar ini menyentuh kalbu kami sangat dalam. Lima orang saudara kita, sesama insan yang mencintai kebenaran, memelihara keadilan, dan mengabarkan kenyataan kepada rakyat, kini hilang di tengah ganasnya alam Gunung Krakatau.

Mereka tidak pergi berhura-hura, tidak pergi untuk kepentingan diri sendiri — mereka pergi karena panggilan tugas, panggilan profesi, panggilan untuk memberitahu rakyat apa yang sesungguhnya terjadi. 

Itulah jiwa sejati seorang jurnalis: berani hadir di tempat yang berbahaya, agar masyarakat tahu apa yang perlu diketahui," ujar Hadysa Prana dengan suara bergetar dan penuh haru. Kamis (10/09/26). 

"Kami di MAUNG dan RAJAWALI merasakan kehilangan ini sebagai kehilangan keluarga sendiri. Sebab RAJAWALI lahir dari semangat persatuan insan pers dan lembaga masyarakat; MAUNG lahir dari keinginan mengawal kebenaran dan keadilan.

Apa yang mereka lakukan hari itu, persis seperti apa yang selalu kami ajarkan: hadir, saksikan, sampaikan. Dan kini, saat mereka belum kembali, tugas kita berubah — bukan lagi sekadar mengawal berita, tapi mengawal doa, mengawal jejak, dan mengawal harapan agar mereka segera ditemukan dalam keadaan selamat," tambahnya.

Berita Terkait
Selengkapnya