Rektorat Disegel Mahasiswa, Ada Apa di Universitas PGRI Palembang?

Mahasiswa Universitas PGRI Palembang
Minggu, 21 Jun 2026  13:25

PALEMBANG, Aliansinews"– 

Gelombang kritik terhadap tata kelola kampus kembali mencuat di lingkungan Universitas PGRI Palembang. Kali ini, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas bersama Majelis Perwakilan Mahasiswa (MPM) dan BEM fakultas turun langsung ke depan Gedung Rektorat, Sabtu (20/6/2026), membawa sederet tuntutan yang mereka nilai menyangkut hak dasar mahasiswa.

Aksi yang dipimpin Presiden Mahasiswa Universitas PGRI Palembang, Andri Manan, tidak sekadar menjadi agenda penyampaian aspirasi biasa. Di tengah kekecewaan terhadap tidak hadirnya pimpinan universitas untuk menemui massa, mahasiswa memilih melakukan penyegelan simbolis terhadap kantor rektorat sebagai bentuk tekanan agar pihak kampus membuka ruang dialog yang selama ini mereka nilai tertutup.

Langkah tersebut menandai memuncaknya akumulasi persoalan yang selama beberapa waktu terakhir menjadi perbincangan di kalangan mahasiswa. Tidak hanya menyangkut fasilitas pendidikan, aksi ini juga menyoroti isu yang lebih sensitif, mulai dari transparansi penyelenggaraan Fakultas Kedokteran hingga penanganan dugaan kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus.

Fasilitas Pendidikan Jadi Sorotan
Dalam tuntutannya, mahasiswa menilai sejumlah sarana pembelajaran masih jauh dari harapan. Kondisi ruang kuliah, ketersediaan bangku dan kursi, papan tulis, infokus, pendingin ruangan, hingga fasilitas penunjang akademik lainnya disebut perlu mendapat perhatian serius dari pihak universitas.

Bagi mahasiswa, persoalan fasilitas bukan sekadar urusan kenyamanan, melainkan berkaitan langsung dengan kualitas proses belajar mengajar. Mereka berpendapat bahwa mahasiswa yang telah memenuhi kewajiban akademik dan administrasi berhak memperoleh lingkungan pendidikan yang layak dan sesuai standar mutu perguruan tinggi.

Polemik Laboratorium dan Fakultas Kedokteran
Salah satu isu yang paling mendapat perhatian dalam aksi tersebut adalah keberadaan laboratorium yang disebut telah dialihkan untuk kebutuhan Fakultas Kedokteran.

Mahasiswa mendesak agar fungsi laboratorium yang sebelumnya digunakan oleh fakultas-fakultas lain dapat dikembalikan dan ditingkatkan kelayakannya. Mereka khawatir keterbatasan fasilitas praktikum akan berdampak pada kualitas pembelajaran mahasiswa serta mengurangi efektivitas proses akademik.

Di sisi lain, mahasiswa juga meminta keterbukaan informasi mengenai penyelenggaraan Fakultas Kedokteran, mulai dari kesiapan sarana-prasarana, tenaga pengajar, sistem akademik, hingga pemenuhan standar pendidikan yang dipersyaratkan.
Tuntutan tersebut menunjukkan adanya kebutuhan akan transparansi yang lebih besar dalam pengembangan fakultas baru yang selama ini menjadi salah satu program strategis universitas.

Berita Terkait
Selengkapnya