Karhutla Kotawaringin Timur capai 285 hektare, kota Sampit diselimuti kabut asap
Tim gabungan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, mengalami kesulitan dalam upaya pemadaman akibat kondisi lahan gambut yang kering.
Minimnya sumber air di sekitar lokasi kebakaran juga membuat proses pemadaman yang dilakukan oleh petugas berlangsung lambat dan berat.
Berdasarkan data terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Timur, luas lahan yang terbakar hingga hari ini telah mencapai 285 hektare dengan 123 titik api yang tersebar di berbagai wilayah.
Peningkatan jumlah kasus karhutla terjadi secara signifikan sepanjang Juli ini, seiring belum turunnya hujan dalam beberapa waktu terakhir.
Akibatnya, kabut asap akibat dari karhutla ini telah menyelimuti wilayah perkotaan dan membuat jarak pandang bagi pengendara terbatas.
Jarak titik api yang cukup jauh dari sumber air turut memperberat kerja petugas di lapangan, karena dibutuhkan rangkaian selang air dalam jumlah besar untuk menjangkau lokasi kebakaran.
Bahkan, sejumlah mesin pemadam dilaporkan mengalami kerusakan akibat dipaksa bekerja melebihi kapasitas normal.
Kepala BPBD Kotawaringin Timur, Multazam K Anwar, menjelaskan bahwa penanganan karhutla di lahan gambut berbeda signifikan dibandingkan penanganan di areal tanah mineral yang relatif lebih mudah dipadamkan.
"Kalau di lahan gambut ini, api aktifnya itu ada di dalam tanah dan terus hidup serta bergerak," kata Multazam.